PEMUTARAN FILM

jalantikus1.jpg

Ruang Alternatif Bagi Sinema

oleh Maulida Raviola

Upaya untuk melacak budaya menonton film masyarakat Indonesia kerap kali terpatri kepada usaha-usaha mengukur jumlah penonton bioskop, jumlah festival film yang terselenggara, atau jumlah komunitas-komunitas film baru yang bermunculan dalam suatu kurun waktu tertentu. Pengukuran ini tidak salah, namun memiliki keterbatasan-keterbatasannya tersendiri. Dalam hal ini, jika film dilihat sebagai produk, dan menonton film dipandang sebagai suatu kebutuhan (bisa jadi premier, sekunder atau tersier), maka menonton film akan menjadi suatu hal yang terus menerus bersaing dengan preferensi-preferensi kebutuhan individual lainnya, terutama bagi masyarakat urban. Menonton film, seperti juga tindakan lain yang dilakukan oleh manusia, bisa jadi merupakan suatu hal yang akhirnya dilakukan setelah melewati serangkaian pertimbangan yang rasional.

Dalam situasi seperti ini, tak heran jika tingginya harga tiket masuk bioskop merupakan salah satu faktor yang bisa jadi mempengaruhi turunnya jumlah penonton bioskop pada 2014. Situs filmindonesia.or.id mencatat kecenderungan penurunan jumlah penonton film Indonesia sampai dengan Mei 2014 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dengan pengecualian film-film seperti Comic 8 dan The Raid 2: Berandal, maka jumlah rata-rata penonton bioskop per film hanyalah 81.414 penonton—dengan catatan banyak juga di antara film-film Indonesia yang dirilis tahun ini yang hanya meraup jumlah penonton sekitar lima ribu penonton. Di samping harga tiket menonton bioskop yang cukup mahal, persaingan antara film Indonesia dengan film-film box office produksi Hollywood menambah daftar pertimbangan yang dilakukan oleh para calon-calon penonton film di bioskop dalam memilih film yang hendak mereka tonton.

Namun syukurlah, di sebuah kampung besar bernama Jakarta, menonton film punya fungsi-fungsi spesifik lain yang lekat dengan karakteristik warganya. Relasi yang terbentuk antara film dengan penontonnya tak semata dilihat sebagai hubungan antara produk dengan konsumennya, tetapi juga sebuah relasi yang tidak dapat lepas dari ruang tempat audiensnya berada. Di Jakarta, berbagai komunitas kemudian bermunculan dan bergiat untuk menjadikan film sebagai suatu medium yang tidak hanya berfungsi untuk memberikan hiburan semata, tetapi juga mempertemukan film dengan audiens yang lebih luas dari sekadar ruang bioskop untuk memperkuat fungsi ruang publik. Hal yang membuat kemunculan ruang-ruang alternatif untuk menonton film ini semakin menarik adalah ketika kegiatan menonton dan menyebarkan film tak hanya dilakukan oleh komunitas-komunitas filmmaker, tetapi juga oleh komunitas atau ruang terbuka lainnya yang berada langsung di tengah warga. Dengan semangat inilah, menonton film memperluas audiensnya, menambah fungsi-fungsinya, dan memperkaya aktivitas alternatif warga ibukota.

Jalan Tikus melakukan wawancara dengan beberapa komunitas, antara lain Galeri Bau Tanah, Coffee War, TROTOARt dan Forum Lenteng, yang berbagi cerita mengenai kegiatan-kegiatan pemutaran film yang mereka lakukan untuk warga ibukota.

Ruang Publik untuk Publik

Galeri Bawah Tanah adalah salah satu inisiatif kolektif yang terbentuk dan berkegiatan di daerah Cikini, Jakarta Pusat, sejak 1995. Melakukan berbagai kegiatan seperti pameran, kelas edukasi dan pemutaran film di ruang publik, antara lain trotoar, pinggir jalan dan bangunan stasiun, Galeri Bawah Tanah bertujuan untuk memanfaatkan ruang publik bagi publik secara lebih optimal, terutama untuk kegiatan berkesenian. Street Film Festival adalah salah satu bentuk kegiatan mendekatkan kegiatan seni kepada publik dalam arti yang seluas-luasnya: pelintas jalan, pedagang keliling, pemilik karya dan tak lupa penduduk sekitar, tanpa mengenal batasan usia dan kelompok tertentu.

“Galeri Bau Tanah adalah wadah untuk karya, tenaga dan pikiran yang menggunakan ruang publik, agar siapa saja bisa melihat,” ujar Radian, salah satu penggiat Galeri Bawah Tanah. Terbuka bagi siapa saja untuk terlibat dan keluar-masuk, Galeri Bawah Tanah juga melibatkan warga sekitar serta masyarakat yang lebih luas untuk mendapatkan pengetahuan dan keahlian baru, seperti penulisan, jurnalisme dan fotografi.

Street Film Festival berupaya menjadikan kegiatan menonton film di ruang publik sebagai bentuk pemanfaatan ruang publik serta mengakomodir minat menonton film warga sekitar dengan menayangkan film-film yang disukai oleh warga, seperti film-film komedi lawas, film-film bertema sejarah atau biografi. Tidak hanya itu, Galeri Bawah Tanah juga bekerja sama dengan para pembuat film independen atau komunitas untuk memutarkan film-film dengan tema tertentu.

“Penonton yang antusias kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak,” tutur Radian. Sesuai harapan dari Galeri Bawah Tanah, publik yang melintas di sekitar stasiun Cikini pun turut mengapresiasi dan melakukan interaksi dengan karya-karya yang dipamerkan oleh Galeri Bawah Tanah, mulai dari pemulung, penjual kacang rebus, juga pejalan kaki.

Meski kini masih hanya sebatas pemutaran film berkala, Street Film Festival dari Galeri Bawah Tanah berharap dapat mengakrabkan warga dengan aktivitas menonton film dan berdiskusi. Radian pun berharap kegiatan pemutaran film seperti ini dapat dilakukan di ruang-ruang publik lainnya, juga agar ada keberlanjutan dari Street Film Festival iniseperti workshop film bagi warga atau produksi film bersama warga.

Memperluas Audiens

“Sekarang banyak orang yang bilang bahwa masalahnya bukan lagi bagaimana membuat film, tapi film seperti apa yang harus kita buat. Sebenarnya bukan (dua hal) itu, tapi masalahnya adalah: mau putar filmnya di mana?” tanya Yogi Sumule, salah satu pendiri Coffee War, ketika dimintai pendapatnya mengenai situasi perfilman Indonesia.

Coffee War, berdiri sejak 2009, dikenal sebagai dapur kopi yang didirikan untuk memberi penghormatan kepada kopi lokal Indonesia. Berlokasi di Jalan Kemang Timur Raya No. 15 A, Jakarta Selatan, Coffee War kerap menjadi ruang bagi bertemunya berbagai komunitas dan minat seperti fotografi, musik, film hingga isu perempuan dan kekerasan seksual.

Ide pemutaran film muncul dari hasil perbincangan Yogi bersama sineas muda Sidi Saleh. Ada sesuatu yang menggusarkan bagi mereka saat menyadari ada semacam keterputusan antara karya film dan audiensnya, padahal ruang-ruang untuk pemutarannya tersedia. Bagi Yogi, kecuali di bioskop, pengalaman menonton film secara kolektif perlahan-lahan digantikan oleh cara menonton film secara individual melalui piranti seperti laptop atau televisi di rumah, sementara film yang dapat dinikmati di bioskop ataupun di laptop pun terbatas ragamnya.

Pada 2010, Coffee War pun menyelenggarakan program pemutaran film bernama Bioskop Merdeka. Program ini mencoba untuk mempertemukan langsung para pembuat film independen maupun film-film komunitas dengan publik yang lebih luas. Program ini juga sempat berjalan di kafe Kedai milik Kartika Jahja di daerah Jalan Benda, Jakarta Selatan, namun sayangnya tidak berjalan terlalu lama.

“Kendalanya ada banyak, kadang dari filmmaker-nya sendiri yang punya syarat-syarat teknis tertentu untuk pemutarannya, sulit dihubungi, atau kadang memang sama-sama sibuk. Ada banyak rencana, tapi sulit untuk dieksekusi,” ujar Yogi. Bisa jadi karena komunitas penonton film di Coffee War sendiri belum terbentuk sesolid komunitas musik atau fotografi. Yogi sendiri hingga saat ini masih mencari-cari format pemutaran film yang sesuai dengan karakteristik pengunjung Coffee War

Alternatif untuk Warga

Berlokasi di daerah Penjaringan, Jakarta Utara, TROTOARt bekerja sama dengan ruangrupa untuk mengadakan Gerobak Bioskop, yang terinspirasi dari semangat layar tancap di Indonesia. Kegiatan ini diadakan untuk mengembalikan semangat menonton film warga sekitar, video atau materi visual lainnya dengan menggunakan ruang publik, yaitu sebuah lapangan futsal yang terletak di daerah Kampung Baru, Penjaringan.

Gerobak Bioskop diadakan setiap malam minggu dan memutarkan 1-2 film sesuai dengan tema tertentu, misalnya film bertema sepak bola. Setiap pukul tujuh malam, TROTOARt menyediakan layar, film dan tempat menonton bagi warga sekitar untuk menyiasati kurangnya akses warga terhadap film-film Indonesia atau film-film box office lainnya.

“Mengadakan pemutaran film adalah sesuatu yang baru bagi masyarakat di Penjaringan. Tidak bisa dipungkiri bahwa di daerah Penjaringan banyak masyarakat dengan latar belakang ekonomi kelas menengah ke bawah, yang banyak dari waktu mereka habis untuk bekerja. Ini menjadikan menonton film sebagai hiburan yang mudah dinikmati dan diakses,” urai Peter, salah satu anak muda yang bergiat di TROTOARt. Gerobak Bioskop, yang kini telah berjalan selama enam minggu, kini lebih banyak menjaring audiens seperti anak-anak dan ibu-ibu, juga perlahan-lahan para bapak, yang menggemari film-film Indonesia.

“Waktu itu kami sempat memutar film Captain America, tapi ternyata sepi. Akhirnya kita coba putar film Garuda di Dadaku dan itu mulai ramai penontonnya. Dari situ kita berpikir bahwa mungkin orang-orang di daerah kita cenderung lebih suka film Indonesia. Kalau DVD bajakan film luar mudah didapat, tapi kalau film Indonesia yang baru rilis mungkin lebih sulit didapat, sehingga mereka lebih suka menonton film Indonesia,” terka Peter, menceritakan pengalaman TROTOARt ketika menyeleksi film yang tepat bagi audiens anak-anak dan orangtua mereka. Film-film bertema sepakbola lainnya seperti Garuda di Dadaku 2 dan Tendangan dari Langit pun telah diputar dan disukai oleh warga. Saat ini, Peter dan anggota TROTOARt lainnya telah menyiapkan materi film untuk diputar selama setengah tahun ke depan.

Bagi Peter, keberadaan TROTOARt di tengah daerah yang pada penduduk seperti Penjaringan menjadi amat menguntungkan. Tanpa perlu menggunakan media penyebaran informasi seperti selebaran, warga lah yang berinisiatif mencari hiburan dan datang ke Gerobak Bioskop dengan sendirinya. Peter berharap, kegiatan Gerobak Bioskop juga dapat meluas ke daerah-daerah sekitarnya. Masing-masing tempat bisa memfasilitasi kegiatan serupa, menggunakan medium yang tersedia, sehingga menjadi alternatif bagi warga untuk mendapatkan tontonan yang berkualitas.

Membaca Sinema Dunia

Sedikit berbeda tujuan dengan komunitas-komunitas sebelumnya, Forum Lenteng dengan program bernama Senin Sinema Dunia pada awalnya bertujuan untuk memperkaya khasanah para pembuat dan penggiat film yang kerap berkumpul di Forum Lenteng, Jalan Haji Saidi No.69, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

“Masa bikin film tapi nggak ngerti tentang film?” canda Yuki Aditya, bertutur tentang asal mula diadakannya Senin Sinema Dunia yang memutarkan film-film klasik dari sutradara-sutradara ternama dunia secara berkala. Pemutaran film ini selain dilakukan untuk memperkaya glosarium perfilman, juga dilakukan untuk memungkinkan adanya pertukaran pengetahuan dari para anggota Forum Lenteng, yang tentunya memiliki preferensi film yang berbeda-beda dan pembacaan yang berbeda-beda atas teks film. Hari Senin dipilih karena pada hari tersebut semua anggota Forum Lenteng menghadiri rapat mingguan. Meski demikian, pemutaran film ini pun terbuka untuk umum.

Seluruh film yang diputar di Senin Sinema Dunia telah dilengkapi subtitle dalam bahasa Indonesia. Film-film yang diputar pun dikurasi dengan serius, dibuatkan katalognya, juga ada beberapa yang diulas menjadi bentuk artikel. Menurut Yuki, kegiatan Senin Sinema Dunia ini turut berfungsi dalam melatih kebiasaan anggota Forum Lenteng untuk berdiskusi, menulis dan mengkaji film.

Seiring perkembangannya, Senin Sinema Dunia berupaya untuk terus memutarkan film-film terpilih yang merupakan karya yang berpengaruh dalam perkembangan sejarah sinema dunia kepada publik yang lebih luas dengan bekerja sama dengan komunitas seperti Kineforum dan Cinema Lovers Community Purbalingga. Forum Lenteng juga mendistribusikan film-film dan katalognya tersebut ke beberapa rekanan di daerah seperti di Pekanbaru, Padang Panjang dan Palu.

Bagi Yuki, yang menarik dari kegiatan menonton film di Indonesia saat ini memang adalah usaha-usaha yang dilakukan oleh komunitas, dengan cara-caranya sendiri, untuk melakukan berbagai kegiatan mulai dari membuat film, mendistribusikannya dan mengadakan pemutarannya. Yuki berpendapat bahwa kegiatan ini yang pada akhirnya turut mendorong kemajuan film Indonesia, meski melalui sebuah jalan alternatif dan belum sesungguhnya melawan “struktur” yang menguasai industri film di Indonesia.

Berbagai artikel dan kajian yang dilakukan Forum Lenteng terhadap sinema dapat kita simak di situs www.jurnalfootage.net. Jangan lewatkan Senin Sinema Dunia berikutnya serta festival film dokumenter dan eksperimental tahunan mereka, Arkipel yang akan diadakan pada bulan September 2014 mendatang. ***

Referensi:

Deden Ramadani, http://filmindonesia.or.id/article/jumlah-bioskop-dan-film-bertambah-jumlah-penonton-turun#.U79ii5SSyYI

http://update.ruangrupa.org/2014/program-pemutaran-bersama-gerobak-bioskop/

http://dkj.or.id/news/film/kineforum-memutarkan-sinema-avant-garde-dan-neorealisme-sepanjang-mei-2012

http://issuu.com/forumlenteng/docs/senin-sinema-dunia-6

http://jurnalfootage.net/v4/tag/senin-sinema-dunia

POTONGAN WAWANCARA: Street Film Festival, Senin Sinema Dunia, Coffee War dan Gerobak Bioksop Penjaringan