STREET ART

jalantikus1.jpg

Asam Garam Menggambar di Jalanan

oleh Bellina Rosellini

Diterangi lampu-lampu jalan di sepanjang Terowongan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, beberapa orang yang memakai rompi berwarna oranye layaknya pekerja dari Dinas Pekerjaan Umum berdiri menghadap tembok besar, tangan mereka sibuk memegang spray can. Cones berjejer di aspal jalan dan sebuah plang bertuliskan “Maap Jalan Anda Terganggu, Kami Sedang Berkarya” terpasang di dekat mereka bergiat.

Mereka adalah komunitas street art yang menamakan dirinya Dinas Artistik Kota (DAK). Berangkat dari kegelisahan mereka mencari ruang publik yang aman saat menggambar tembok-tembok Ibukota, sebuah ide pun tercetus untuk berbusana dan berdandan layaknya para pekerja dari Dinas Pekerjaan Umum. Hal ini dilakukan agar tidak ada kecurigaan dari pihak aparat saat mereka berkarya.“Kalau lagi bombing, bikin grafiti, atau mural kita selalu pake atribut biar terlihat legal, biar kelihatan kayak orang Suku Dinas,” kata salah satu anggota Komunitas DAK, Ombo.

Sejak 2010, DAK memulai kegiatanntannya, salah satunya adalah ketika mereka merespon pilar monorel di daerah Senayan. Ombo mengatakan proyek yang diberi nama Unseen Sin ini memang bertujuan untuk “menghilangkan” pilar-pilar monorel yang sangat mengganggu di tengah kota. “Pilar monorelnya kita mural persis seperti background-nya jadi hasilnya, pilar itu akan seolah-olah hilang,” ucapnya.

Tidak hanya di Senayan, Dukuh Atas dan Jalan Pemuda adalah tempat-tempat langganan para street artist untuk mengekspresikan kreatifitas mereka. Ombo mengatakan dua tempat tersebut pernah mereka klaim sebagai galeri jalanan. “Dari 2003, Dukuh Atas adalah tempat paling strategis, tingkat kemacetan di sana tinggi, jadinya publik lebih banyak waktu untuk mengapresiasi karya dan juga kalau malam disana terang jadi lebih enak buat digarap,” lanjut Ombo.

“Sudah susah cari tempat aman buat gambar di Jakarta, “ungkap Sigit, anggota Project Akhir Tahun atau PAT, sebuah proyek yang digagas Propagraphic Movement, komunitas yang mengusung street art sebagai aktivitasnya. Ia mengungkapkan, setiap gambar yang dibuat di jalan bisa cepat sekali hilang. “Kalau mau cari salah satu titik aman itu di Slipi depan Jakarta Design Center, tapi itu punya gue,” ujar Sigit sambil diiringi tawa.

Di Slipi, Sigit mengaku pernah sekali waktu didatangi pihak kelurahan. Tak hanya itu, kalau di tempat lain tak jarang segerombolan Satuan Polisi Pamong Praja atau Satpol PP sudah mengusir mereka bahkan ketika karya belum selesai dibuat. Lain lagi, ketika mereka sedang beramai-ramai menempel poster di Kawasan Terminal Blok M, tiga satpam sudah menghadang dan menggiring mereka ke pos. Dua anggota PAT dimintai keterangan dan sisanya sibuk mencopot poster-poster yang baru saja mereka tempel.

Ada yang berbeda memang sejak dikeluarkannya kebijakan baru oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yaitu Pasal 21 Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum, yang berisi larangan corat-coret di fasilitas dan sarana umum. Aktivitas menggambar di jalan serentak lebih sulit dari tahun-tahun sebelumnya. Gambar-gambar di tembok kota juga lebih sedikit. Gubernur DKI Jakarta dalam beberapa kesempatan mengatakan, ia tidak melarang keberadaan mural dan grafiti tapi kalau corat-coret sembarangan memang dilarang. “Satpol PP gak ngerti mana yang grafiti atau mural, yang penting tembok negara gak boleh dicorat-coret. Mereka menyamaratakan gitu aja,” ungkap Sigit lagi.

Sigit menceritakan saat sedang menggarap sebuah tembok di daerah Blora, Jakarta Pusat bersama teman-teman PAT, tiba-tiba satpol PP datang dan menghentikan kegiatan mereka. Setengah naik pitam salah satu dari mereka pun berbicara dengan sekawanan satpol PP itu, “Pak, kalau kita belum selesai gambar terus harus berhenti jadinya bakal jelek, kalau emang diberhentiin tunggu kelar dulu pak, kita jamin kok kalo jadi pasti bagus,” ujarnya. Benar saja sekawanan satpol PP itu pun menunggu mereka menyelesaikan karyanya.

“Sekitar empat tahun lalu, kalo mau gambar itu aman banget. Gue pernah gambar di Dukuh atas dan pas banget ada pejabat lewat. Paling gue cuma disuruh ngerapiin barang terus ngumpet. Kalau udah lewat pejabatnya, gue bisa gambar lagi,” ujar Sigit. Jaman sekarang pada akhirnya street artist dihadapkan dua pilihan yaitu terus menggambar di jalan dengan begitu banyak resiko atau pindah ke ruang-ruang alternatif seperti galeri. “Gambar di galeri adalah salah satu pelampiasan buat temen-temen yang udah lama gak gambar di jalanan karena takut atau gak aman,” lanjutnya lagi.

Bagaikan maling yang selalu lebih lihai dari polisi, ada seribu satu cara yang dipakai para street artist ini untuk terus memutar roda kreatifitas mereka di kanvas-kanvas beton Ibukota. Salah satunya adalah cara teman-teman PAT mempertahankan hasil gambar mereka. Kalau pernah melewati daerah Senayan, kita akan menemukan gambar yang ditempelkan sebuah kertas dengan tulisan, “Gambar Ini Mendapat Ijin dari Pemda.” Sigit mengatakan gambar tersebut sampai hari ini masih bertahan padahal sebenarnya tidak dapat ijin.

Ada lagi cara cerdik yang lain, menurut Jablay dari Komunitas Gardu House, membuat grafitiatau mural biasanya dilakukan sekitar pukul sepuluh malam atau pukul duabelas dini hari dan itu sangat rawan diberhentikan petugas ketertiban. Maka, waktu yang paling aman adalah pukul setengah lima pagi saat orang sedang lelap-lelapnya tertidur. Di waktu tersebut, barulah aksi menggambar dilaksanakan. Jablay mengatakan, pagi di saat ramai juga adalah waktu yang tepat untuk menggambar karena semua orang sedang dimabuk kemacetan kota dan cenderung tidak peduli saat ada sekelompok orang sedang menggambar di tembok atau terowongan jalan. “Petugas ketertiban jam segitu juga masih pada di kantor atau lagi pada apel, nah saat itu tembok-tembok kita hantem duluan,” katanya lagi.

Selain dari subuh sampai pagi hari, momen sepi lainnya akan ditemukan ketika Perayaan Idul Fitri. Jalan Sudirman sudah pasti menjadi kanvas idaman. “Susahnya nyari momen kita siasati dengan netapin waktunya, kita latihan pake timer saat ngegambar karena semakin lama loe (menggambar) di jalan, kemungkinan loe ditangkep makin besar juga,” kata Jablay.

Tak Ada Fulus, Menggambar Jalan Terus

Komunitas-komunitas street art di Jakarta tak sedikit yang berakar dari kampus. Sekedar nongkrong-nongkrong di belakang gardu listrik Kampus Interstudi, membuat komik yang difotokopi lalu disebar di kampus ISIIP, atau kumpul-kumpul dari selesai kuliah sampai malam di kampus UNJ, semua interaksi itu akhirnya tumbuh menjadi gerakan-gerakan yang lebih besar. Namun, kantong-kantong mahasiswa yang kadang tipis kadang tebal ini memaksa mereka untuk memutar otak agar kuas-kuas cat mereka bisa tetap basah.

Kerjasama dengan beberapa lembaga anti korupsi misalnya pernah dilakoni oleh Propagraphic Movement. “Kita sering kerjasama dengan Indonesian Corruption Watch (ICW), pernah juga kita diminta menggambar di markasnya Transparency International Indonesia (TII),” ungkap Sigit. Menurutnya, lembaga-lembaga yang mengajak komunitas street art bekerjasama biasanya sudah tahu konsekuensi kampanye dengan mural di ruang publik. Kelebihannya, kampanye atau iklan yang dibuat di jalanan bisa dilihat oleh banyak orang yang lewat, namun kekurangannya iklan bisa ditiban kapan saja oleh kelompok tertentu, Satpol PP, atau bahkan iklan yang lain. “Biasanya agar gak cepet hilang gambarnya, kita bawa surat dari lembaga yang kita ajak kerjasama. Terkadang juga, saat menggarap karya, kita ditemenin orang dari lembaga tersebut. Nah, dia bagian approach ke birokrasinya dan kalau sudah begitu kita harus cepet ngelarin gambar.” kata Sigit lagi.

Cerita yang sama datang dari Kampung Segart, sebuah komunitas yang bermula dari Unit Kemahasiswaan di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) . Mereka mengaku mengumpulkan uang dari pekerjaan sebagai orang yang mengerjakan karya seniman atau artisan. “Kita pernah menggambar dinding tempat pameran seorang seniman Belanda di Goethe House Jakarta,” ujar anggota Kampung Segart, Riyan Riyadi alias The Popo. Selain sebagai artisan, Kampung Segart juga pernah berkolaborasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK. Popo yang juga berprofesi sebagai dosen di IISIP ini mengatakan, Kampung Segart mendapatkan uang murni dari pekerjaan yang datang kepada mereka. Setiap ada pekerjaan, keseluruhan pendapatan akan dipotong 10% untuk kehidupan komunitas.

Berbeda dengan Propagraphic Movement dan Kampung Segart, Gardu House memilih mengumpulkan uang dengan cara menjual barang dagangan seperti kaos, tas, dan topi yang mereka desain sendiri. “Kita gak terlalu percaya sama funding, kita bisa jual karya dan dari situ kita bisa hidupin komunitas ini”, ucap Jablay. Gardu House, ia mengatakan, memulai berjualan dari hand to hand, secara online, dan sampai sekarang sudah bisa memiliki toko sendiri yang menjual barang-barang untuk membuat graffiti dan mural.

Pada awalnya sebelum pekerjaan-pekerjaan datang menghampiri, mereka mengumpulkan uang secara kolektif untuk membeli cat dan pilox. Diantara mereka bahkan ada yang rela tidak dibayar demi memuaskan hasrat menggambar. “Kadang kita suka dapat pekerjaan yang gak komersil, asal ada biaya produksi buat beli kertas dan cat, temen-temen biasanya oke buat garap,”ucap Sigit menambahkan. Begitulah, akhirnya Fulus, sama sekali tidak jadi penghalang untuk bisa menggambar terus.

Street Art Menyusup Sampai Pelosok

“Di Indonesia, Jakarta itu trendsetter grafiti, kalau bikin acara yang dateng anak-anak Jakarta juga scope-nya bakalan kecil. Nah, kalo kita bawa keluar (Jakarta), feedback-nya akan jauh lebih besar,” ungkap Jablay saat ditanya tentang kenapa Gardu House sering mengajak anak-anak daerah di luar Jakarta untuk bergiat bersama. Di Gardu, Jablay mengatakan, ada dua anak sekolah baru lulus, tinggal sementara di sana. Mereka datang mau belajar tentang street art dan memutuskan setahun tidak melanjutkan kuliah demi rasa ingin tahu mereka tentang grafitti dan mural. “Seperti dua anak dari Palembang itu, gue milih di bidang street art, jadi tanggung jawab buat gue untuk bertahan sampai saat ini, jaringan yang luas, keliling Indonesia, dan punya banyak teman, semua itu gue dapet dari menggambar,” lanjutnya.

Gardu House cukup sering menerima beberapa orang yang datang untuk belajar tentang dunia seni menggambar di jalan. Orang-orang tersebut memilih tinggal di kontrakan milik Gardu House yang terletak di Jalan Veteran Raya , Jakarta Selatan selama kurang lebih sebulan. Berkumpul dan membuat karya, begitulah yang terjadi. Tidak hanya seniman negeri sendiri, seniman asal Australia, Singapura, Thailand bahkan Tiongkok sempat mampir ke Gardu House untuk membuat proyek-proyek street art.

Sampai ke Pulau Kalimantan, Gardu House mengalirkan semangat saling mendukung ini. Bentuk dukungan untuk kegiatan grafiti di daerah lain dilakukan dengan promosi acara dan membantu bagian media partner. Melihat jaringan luas yang Gardu House miliki di Ibukota, tentu akan lebih mudah mengangkat street culture daerah lain di mata masyarakat penggemar street art di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Jablay dan teman-temannya sering pula diundang keliling Indonesia untuk berbagi pengalaman mereka bertahan di dunia grafiti. “Kita ajak teman-teman untuk saling membangun jaringan di dunia street art,” kata Jablay.

Dinas Artistik Kota pernah membuat sebuah pameran di negeri seberang, Malaysia. Beberapa gambar hasil karya teman-teman street art dari Jakarta dan daerah-daerah lain di Indonesia diproyeksikan dengan proyektor ke aspal jalan. “Kita berusaha untuk lebih eksperimental aja bermain di ruang publiknya. Teman-teman di luar Jakarta kita minta mereka mengirim karya untuk diputar disana,” ujar Ombo. Itulah salah satu bentuk dukungan lain dari DAK untuk memajukam scene street art di Indonesia. Ia mengatakan, DAK juga salah satu komunitas yang sangat terbuka menerima siapa saja yang mau berkecimpung di street art dan tidak terbatas hanya di Ibukota saja. “ Kita malah lebih senang kalau di daerah setiap lagi menggarap karya pake atribut dari DAK. Ini bisa jadi shock therapy buat teman-teman di daerah sekaligus dinas daerahnya kalau ternyata ada bentuk-bentuk kesadaran artistik seperti yang kita lakukan ini.”

Para pelaku seni ini sadar bahwa ada perubahan yang begitu besar terjadi hingga hari ini di dunia street art. Tidak lagi kita lihat anak-anak muda yang asal corat-coret tembok. Kalau kita perhatikan di jalanan sekarang, ada konsep yang terikat di dinding-dinding besar itu, ada isu sosial dan kritik berdasarkan rasa jengah terhadap kota yang membuat masyarakatnya menjadi terasing di tempat tinggalnya sendiri. Penikmat seni model begini beragam, dari berumur sepuluh tahun hingga tigapuluh tahun-an. “Gue sering banget ketemu anak kecil sekitar umur duabelas tahun dari daerah Cakung bahkan Bojong datang buat belanja di Gardu Housedan gue kaget karena mereka taruh uangnya di dalam sandal yang dia robek, katanya biar gak dipalak, buat gue ini keren, lalu gue jadi mikir lagi, dulu yang dateng pameran paling yang kuliahnya seni, seniman, atau pengamat seni dan sekarang siapa saja dateng,” cerita Jablay dengan semangat.

Jablay melanjutkan ceritanya, seniman-seniman asal Singapura yang pernah membuat proyek bersama Gardu House sempat heran melihat animo yang begitu besar di scene street art Jakarta, sampai anak kecil bisa datang dan ikut menggambar. Jablay sering menemui orang-orang tua menemani anak-anak mereka belanja di Gardu House untuk membeli keperluan membuat grafiti. “Jaman dulu satu kaleng pilox kita beli patungan rame-rame, sekarang anak SD dan SMP aja udah bisa beli beberapa kaleng buat satu orang, dan gue bisa bilang sekarang street art berkembang banget,” ungkap Jablay lagi. Teman-teman di Gardu, ia melanjutkan, punya tanggung jawab untuk memberi arahan kepada orang-orang yang baru menekuni dunia seni ini. Karena itu pula, Gardu House cukup rajin membuat workshop, pameran , sampai Sunday Sketch Jamming.

Berkembangnya kegiatan seni visual di jalanan ini membuat Kampung Segart berfikir untuk melakukan pengarsipan karya grafiti dan mural yang pernah dibuat di dinding-dinding Jakarta. Proyek berjudul Visual Jalanan ini baru dimulai awal 2013. Rencana awalnya proyek ini berguna untuk mengarsipkan karya visual dari 2013 sampai sekarang. Namun, tanpa sengaja arsip-arsip sebelum 2013 jadi ikut terkumpul. Visual Jalanan lahir berbentuk situs web yang bisa kita lihat di visualjalanan.org atau juga twitter dan instagram. Lewat media sosial arsip-arsip ini terkumpul dan terpublikasi dengan cara mirip seperti citizen journalism. Seirama dengan Kampung Segart, PAT juga melakukan pengarsipan karya. Bedanya mereka mengumpulkan poster yang mereka pernah tempel di jalanan dari 2004 sampai sekarang.

Komunitas-komunitas ini seperti virus yang berhasil menjangkiti banyak orang. Mereka menggaungkan isu sosial lewat bentangan ide-ide visual di jalanan. Tidak hanya di Jakarta sebagai pusat segala-galanya di Indonesia tapi juga menyusup hingga ke pelosok-pelosok dari Sumatera sampai Kalimantan. “Ini bukan masalah kemampuan menggambar loe yang canggih tapi bagaimana loe bisa konsisten sama apa yang loe pilih. Itu jauh lebih hebat daripada kualitas gambar tapi baru dapet larangan dari pemerintah aja loe berhenti,” ujar Jablay.

Asam garam menggambar di jalan mungkin sudah hampir bosan dinikmati Jablay, Sigit, Ombo dan Popo. Menggambar lalu dikejar satpol PP di pagi buta sampai bekerjasama dengan begitu banyak lembaga adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak mungkin bisa dilalui oleh orang-orang yang tidak kuat bertahan di kerasnya kehidupan street art. Kritik-kritik yang terselip di medium visual jalanan ini seperti menyentil mata, telinga, dan hati kita ketika melangkahkan kaki keluar rumah. “Saat kita bersinggungan dengan jalanan Jakarta, kita akan menemukan ketidaknyamanan dari segi ruangnya itu sendiri dan gue yakin attitude juga dibentuk oleh ruang publik, kalau ruang publiknya kacau attitude masyarakat yang kebentuk juga kacau,” kata Ombo mengakhiri percakapan.

Potongan wawancara: Gardu House, Dinas Artistik Kota, Kampung Segart dan Project Akhir Tahun

 

ARSIP VIDEO ruangrupa: Jakarta 32 Derajat 2006