PENERBITAN

jalantikus

Habis Mainstream Terbitlah Indie

oleh Aman Wijaya*

Penerbitan itu tidak melulu membicarakan Gramedia, kata Manan salah satu pemandu Jalan Tikus. Di Jakarta sendiri telah berdiri beberapa penerbitan-penerbitan alternatif yang dikembangkan secara mandiri. Oleh karena itu Manan dan Oming akan mencoba mengunjungi beberapa penerbitan alternatif di Jakarta.

*******

Untuk sesi pertama Jalan Tikus edisi Penerbitan, Manan dan Oming akan mengobrol panjang lebar bersama Rally The Troops.

Rally The troops, merupakan salah satu penerbitan alternatif di kota Jakarta, yang diprakarsai oleh Toro Elman yang berlatar belakang seorang musisi dan komikus, lalu mulai berdiri pada pertengahan 2013. Ide Toro untuk mendirikan penerbitan ini dimulai pada masa kuliahnya, waktu itu dia bersama beberapa temannya sempat membuat satu buku cerita yang terdiri satu penulis dan tiga puluh ilustrator. Setelah hobinya itu sempat mandek, Toro kemudian merasa tertantang dan berfikir  untuk mengembangkan sebuah penerbitan yang dikelolah sendiri. “Sepertinya asyik jika punya penerbitan yang di arahkan sendiri”, tutur Toro dalam wawancara bersama jalan tikus.

Di awal berdiri, Rally The troops cuma menerbitkan buku-buku sendiri dan mengorganisir beberapa acara terkait penerbitan. Kemudian sampai sekarang, penerbitan ini dikawal oleh orang-orang yang berada di lingkaran Toro sendiri. Soal nama dari penerbitannya, Toro terinspirasi dari salah satu lagu band emo yang judulnya “Rally The Troops”. Rally The Troops adalah Istilah pada jaman Perang Dunia ke-II yang diperuntukkan bagi kepala prajurit yang menyemangati prajurit lain. Jadi penggunaan nama Rally The Troops merupakan semangat untuk menyemangati orang-orang lain menerbitkan bukunya sendiri.

Setelah tiga tahun berdiri, Rally The Troops telah menerbitkan dua puluh zine di antaranya zine puisi, foto, dan cerpen yang ditulis oleh kawan-kawan Toro sendiri. Kemudian, dari dua puluh zine yang diterbitkan, zine cerpen mendominasi hingga 60%. Nah untuk soal pemasaran, selain memanfaatkan internet, Toro juga memanfaatkan bazar-bazar kecil serta beberapa toko buku di Jakarta, Surabaya dan Bandung.

Dalam pengerjaan terbitan, Toro dibantu oleh seorang kawannya yang bernama Dimas. Dimas dalam hal ini menilai kualitas tulisan yang akan di terbitkan, dan Toro menilai persoalan estetika terbitan. Menurut pengakuan Toro, yang kurang dari Rally The Troops adalah penyunting. Sehingga tulisan-tulisan yang akan diterbitkan diserahkan sepenuhnya kepada penulis. “Yah, kalau dilihat-dilihat tulisannya sudah bagus, ya udah terbitin aja”, tutur Toro saat ditanya oleh Manan terkait proses penyuntingan. Selain itu Toro juga melakukan kolaborasi dengan beberapa ilustrator dalam menangani persoalan estetika terbitan.

Selain menerbitkan buku-buku zine, Rally The troops juga pernah mengadakan workshop dan diskusi mengenai zine. Dari workshop yang pernah diadakan, ada juga peserta yang tulisan-tulisannya sempat diterbitkan oleh Toro. Setelah diterbitkan, Toro sempat memasarkan terbitan itu di Pasar Seni ITB. “Laku nggak?”, tanya Manan kepada Toro. “yaahhh…gak lau-laku amat, yang penting modal bisa balik”. Tutur Toro.

Ketika ditanya soal cara bertahan hidup dari Rally the Troops, Toro mengatakan bahwa dia sempat menyewa social media buzzeruntuk membantu proses pemasaran. Tapi karena tidak bertahan lama, akhirnya terbitan di jual di toko-toko buku. Menurut Toro, walaupun tidak banyak yang terjual tapi modal penerbitan bisa sedikit tertutupi. Jadi, jika modal dari terbitan sebelumnya belum kembali, maka terbitan selanjutnya akan menunggu untuk diterbitkan. Selain itu Toro juga mempertahankan Rally The troops melalui usaha-usaha lainnya, alias subsidi silang. “Yah gue sih menjalaninya santai, yang penting modal bisa balik dulu. Dan gue akan menjalaninya sampai bosan”, tutur Toro.

***********

Selain Rally The Troops, Jalan Tikus juga sempat mengunjungi penerbit lain, salah satunya adalah Pensil 324. Supriadi alis Cupe salah satu personil pensil 324 banyak bercerita mengenai penerbitannya kepada Manan dan Oming.

Pensil 324 didirikan pada 2002, tepatnya di awal reformasi. Pada waktu itu isu-isu demokratisasi, civil society, dan isu-isu kemasusiaan sedang ramai diperbincangkan. Sehingga awalnya pensil 324 tidak ditujukan untuk penerbitan buku-buku sekolah, melainkan wacana-wacana yang lebih umum yaitu wacana sosial politik. Sampai sekarang, Pensil 324 telah menerbitkan sekitar 100 judul buku. “Buku-bukunya ada yang temanya serius, ada juga yang santai”, tutur Cupe.

Saat ditanya oleh Manan mengenai nama dari Pensil 324, Cupe mengatakan bahwa awalnya yang menggagas Pensil 324 berdomisili di jalan Margonda dengan nomor rumah 324. Orang-orang yang tergabung banyak berdiskusi mengenai isu-isu demokratiasasi, sosial politik dan HAM. Lalu orang-orang tersebut sepakat untuk membentuk wadah penerbitan di bawah Yayasan 324.

“Trus penggunaan kata pensil sendiri? Maksudnya kenapa gak pakai spidol atau apalah” tanya Manan kepada Cupe.

“Yah mungkin saja terkait dengan pendidikan yang identik menggunakan pensil”, tutur Cupe kepada Manan.

Hingga saat ini alamat dari pensil 324 berada di Depok, yang sebelumnya di Duren Tiga pada tahun 2004.  Alasan berpindah-pindah alamat tidak lain karena persoalan finansial.

Untuk persoalan distribusi, sampai hari ini pensil 324 tetap memanfaatkan toko-toko buku besar seperti Gramedia, Kharisma dan Gunung Agung. Pertimbangannya karena toko-toko buku tersebut masih menjadi pilihan pertama orang-orang untuk mencari buku. “Walaupun sebenarnya hanya untuk kepentingan etalase, untuk memperlihatkan bahwa buku kami ada”, tutur Cupe. Jika ada buku yang dikembalikan karena tidak laku, maka pensil 324 mengirim ke toko-toko buku kecil, atau ikut kegiatan pameran buku. Sehingga buku yang sudah lama namun masih layak baca, dijual hingga harga Rp 20.000,-. “Karena banyak yang tidak laku, akhirnya hanya kembali modal”, Ungkap Cupe.

“Terkait isi-isi buku, yang serius dan santai, yang gak serius itu seperti apa?” tanya Manan kepada Cupe.

 Untuk pertanyaan itu, Cupe memberikan contoh salah satu judul buku yang dianggap santai yang judulnya “selingkuh cerdas”. Buku itu membahas alasan-alasan orang untuk selingkuh, ketidakpuasan, dan sedikit trik untuk selingkuh. Namun menurut Cupe, buku itu tidak mengajak  orang untuk selingkuh, tapi agar orang tahu ciri-ciri pacarnya ketika berselingkuh.

Terkait penilaian sebuah naskah yang masuk, Pensil 324 punya dua pertimbangan, diantaranya teknik bahasa dan isi. Jika dipertimbangkan bahwa isi dari sebuah naskah memadai untuk diterbitkan, misalnya bersifat informatif dan memberikan pengetahuan kepada publik, tapi kemudian bahasanya sedikit rumit, maka Pensil 324 akan meminta kepada penulis untuk melakukan proses editing.

“Tapi kadang juga ada penulis yang meminta agar pensil 324 saja yang melakukan editing”, tutur Cupe.

Untuk persoalan promosi, pensil 324 pernah merambah social media. Tapi karena manajemen yang kurang bagus, ada yang anggota yang intens, ada yang tidak, akhirnya promosi melalui social media tidak berjalan lama.

“Jadi tidak sebaik media-media yang punya manajemen bagus dan modal kuat untuk merekrut orang. Dan sampai sekarang Pensil 324 hanya dikelolah lima orang. Sebelumnya ada 10 dan lima di antaranya mundur satu persatu lalu mencari wadah yang lain”, ungkap Cupe.

Sampai hari ini pensil 324 hanya mencetak paling banyak 1000-1500 eks, dan jika terjual sampai 40%, bagi penerbit itu sudah lumayan. Dan jika ada penulis yang mau menjual sendiri bukunya, maka akan diberikan diskon sebesar 30-35%.

 Pensil 324 juga pernah menerbitkan naskah tesis dan disertasi. Salah satu tesis yang pernah diterbitkan adalah Pemikiran Politik Islam karya Rahman Zainuddin almarhum, seorang pengajar di jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Menurut Cupe, pemilihan naskah tesis dan disertasi sedikit bebas, yang jelasnya tidak ikut pada instrumen pasar begitu saja. Jadi persoalan tesis dan disertasi, yang jelasnya punya muatan yang bagus, data yang kuat dan bahasanya mudah dimengerti oleh publik. “Selama terkait tema-tema HAM, demokratisasi dan civil society, kami akan dukung” tutur Cupe.

Namun karena tuntutan pemasaran, Pensil 324 juga pernah menerbitkan cerpen. Pemasaran menginginkan pensil 324 menerbitkan cerpen atau novel dengan tema yang jelas agar memperlancar sirkulasi. Meskipun ditengah proses penerbitan terjadi perdebatan kenapa harus menerbitkan cerpen sedangkan awalnya telah sepakat untuk menerbitkan tema-tema yang telah disepakati.

“Baru-baru ini Pensil 324 juga menerbitkan buku tentang terorisme yang berjudul Menteroriskan Tuhan: Gerakan Sosial Baru. Buku tersebut coba menjelaskan tentang bagaimana agama dijadikan alat kekuasaan oleh kelompok-kelompok tertentu”, terang Cupe kepada Manan dan Oming.

Nah terkait masalah cara Pensil 324 bertahan hidup, Cupe menjelaskan bahwa kadang ada penulis yang memberikan naskah dan jaminan akan menjual ke komunitasnya, atau ada yang punya modal sendiri untuk menerbitkan bukunya.

“Pernah ada buku kedokteran, yang pembahasannya mengenai hak-hak pasien. Tentang pasien yang dibiarkan tidak tahu bagaimana mereka diobati. Nah, mereka jamin untuk mendistribusikan ke mahasiswa. Selain itu pernah juga ada buku tentang polisi yang mencoba mengkritik kondisi hirarki yang sangat kaku dan menjadikan kebijakan berjalan secara kaku, serta kesenjangan pimpinan dan bawahan. Buku itu juga diterbitkan dengan dana sendiri. Jadi itu semua adalah cara-cara pensil 324 untuk survive”, tutur Cupe.

Adapun syarat untuk menerbitkan buku di pensil 324 sangat mudah, pertama penulis harus punya tulisan, bisa mengerti isi tulisannya, dan harus bisa bersabar kapan bukunya akan diterbitkan karena terkait persoalan finansial. Untuk saat ini pensil 324 dapat dihubungi melalui Pensil324@yahoo.com.

*******

Berbeda dengan sebelumnya yang membicarakan tentang penerbitan alternatif secara khusus, kali ini Berto Tukan akan membagi pengalamannya mengenai mencetak buku pdf.

Mencetak buku pdf merupakan inisiatif individu untuk mencetak buku yang mulai tren sekitar tahun 2005. Buku-buku pdf yang disasar ada bermacam-macam, terutama untuk buku yang harganya dapat dikatakan mahal dan tidak dapat ditemukan di dalam negeri.

“Saya dan beberapa teman-teman kebanyakan mencetak literatur dari luar negeri, karena untuk membeli buku yang asli ongkosnya terlalu mahal. Walaupun sebenarnya banyak juga buku-buku tertentu yang tidak bisa ditemukan”, tutur berto kepada Manan dan Aming.

 Tapi di satu sisi, ada juga problem dimana beberapa buku-buku indonesia akan lebih mahal jika mencetak versi pdf. Hal ini dikarenakan buku-buku indonesia dicetak dalam jumlah banyak sehingga harga akan jatuh murah. Selain itu, menurut Berto banyak juga buku-buku lokal yang merupakan hasil scan, sehingga problemnya kadang buku hasil scan harus di edit terlebih dahulu, bahkan ada beberapa bagian yang tidak bisa di edit lagi.

Nah untuk masalah cetak-mencetak, orang-orang lebih banyak mencetak untuk kepentingan kuliah, terutama teks book. Bahkan sudah banyak dosen yang ikut mencetak pdf, dan biasanya dapat info dari mahasiswanya. Untuk percetakan sendiri, kano yang berada di depok biasanya menjadi pilihan pertama karena kualitas cetak yang bagus. Meskipun dibeberapa tempat seperti Benhill dan senen juga sudah ada, namun kano masih unggul dari segi kualitas.

Terkait penggunaan jenis paper, Berto mengatakan bahwa penggunaan paper awalnya dipelopori oleh gramedia beberapa tahun yang lalu. Kemudian beberapa percetakan juga ikut menggunakan jenis paper, bahkan beberapa orang yang mencetak bukunya sendiri juga sudah menggunakan jenis paper.

Khusus untuk percetakan kecil, biasanya menunjukkan jenis buku dan cover terlebih dahulu, kemudian dicetak ketika sudah ada pemesan. Karena teknologi cetak juga sudah berkembang, maka kebanyakan percetakan menggunakan sistem priodi, karena sistem priodi hanya membutuhkan komputer untuk kepentingan edit dan sebuah mesin cetak atau foto copy.

Menurut Berto, selain warga melek literatur yang memanfaatkan percetakan pdf, ada juga dosen dan peneliti yg berafiliasi dengan universitas tertentu. “Misalnya STF tempat saya sekolah, sebulan sekali nge-print berbagai macam buku pdf untuk kepentingan perpustakaan. Karena lebih menguntungkan daripada memesan langsung dari penerbit. Jadi sistemnya, perpustakaan mengumpulkan pdf, dan diserahkan ke kano untuk dicetak”, tutur Berto.

Bahkan di lembaga seperti freedom institute, orang yang meminjam buku dapat meng-copy melalui petugas perpustakaan. Dengan menunggu selama 5 hari, orang bisa mendapatkan hasil copy-an yang sama dengan buku asli.

Selain mencetak pdf, di Indonesia sendiri banyak kasus dimana orang mem-pdf kan buku-buku lokal. “Pernah ada kasus, bukunya Njoto (marxisme dan amalannya) di scan trus di edit lagi. Karena tidak mungkin ada pdf di tahun 50-an. Saya sendiri pernah melakukan itu kemudian saya upload ke giga pedia”, ungkap Berto kepada Manan dan Aming.

*******

Berbeda lagi dengan sebelumnya, dimana penerbitan yang identik dengan buku, kali ini Aditita bercerita akan bercerita panjang lebar mengenai penerbitan dalam bentuk audio box.

Aditita bercerita adalah penerbitan yang digawangi oleh Aditya Saputra dan Baita, yang dimulai pada tahun 2013 ketika Aditya bertemu dengan Baita. Aditita bercerita adalah sebuah penerbitan yang memfokuskan dirinya pada tema-tema horor, karena kebetulan dua orang ini adalah penikmat horor, sama-sama senang bertutur, dan juga sama-sama punya proyek bertutur.

Untuk aditya sendiri, proyek bertuturnya dimulai pada tahun 2008 ketika menggarap soundtrack maujud yang telah dikonsepkan sejak awal. Bagi aditya, dengan medium suara yang lebih menekankan ke nuansa horor, orang-orang bisa bebas berinterpretasi berdasarkan apa yg mereka tangkap.

Karena tujuannya memang bertutur, maka karya dalam bentuk tulisan dikembangkan belakangan. Intinya bagi Aditya, orang-orang paham dan bisa menangkap suasananya dulu. Barulah pada tahun  2010, Aditya cukup aktif menulis di blog pribadi yang bernama maujud,karena kebetulan Aditya senang dengan hal-hal yang ber-wujud. Lalu setelah keduanya bertemu dan melangsungkan pernikahan pada tahun 2013, dimulailah aditita bercerita.

Untuk persoalan output, keduanya sama-sama mempunyai blog dan masing-masing mengembangkan tema-tema horor. Aditita juga pernah melakukan kolaborasi yang salah satunya dengan penduduk asal  singapura. Dalam proyek itu, awalnya hanya kolaborasi sound tapi kemudian dikembangkan menjadi cerpen yang gendrenya lebih ke masyarakat. Misalnya kampung yang diserang alien.

Diproyek aditita, keduanya juga saling membantu untuk menemukan kualitas yang lebih baik. Misalnya Aditya membantu Baita lebih ke persoalan sound, dan cerita intinya diserahkan sepenuhnya kepada Baita. Untuk Baita sendiri, dia membantu untuk merumuskan nuansa yang lebih feminim…

“Feminim dark itu cukup menceritakan suasana ngerinya aja, tidak menceritakan sesuatu yang berwujud”, ungkap Baita.

Ketika ditanya persoalan materi cerita, Baita sendiri mengaku bahwa kadang menemukan ide ketika sedang berimajinasi tentang sesuatu yang tragis dalam keadaan galau. Lalu untuk Aditya sendiri, biasanya menemukan materi melalui film, misalnya film jepang, Sthepen Kings, dan Abdul Harahap.

Sampai saat ini, Aditya bercerita telah mempunyai beberapa karya yang sudah diterbitkan seperti  maujud, patiakni, entitas, dan selebihnya cenderung ke digital misalnya pdf cerpen dan foto yang kira-kira bisa menceritakan sesuatu yang horor..

Tapi ternyata tidak semua karya Aditita menyangkut hal-hal horor. Karya Aditya yang terbaru lebih ke komedi dan dikemas dalam bentuk komik. “Saya ngambil tema komik dengan latar 80-an dan 90-an karena persoalan kangen dengan masa-masa itu. Lalu kemudian banyak juga orang seumuran saya yang membuat hal-hal seperti itu, bahkan menjadi tren dan ada yang mengubah dari karya visual ke musik. Intinya itu adalah nostalgia masa kecil”, tutur Aditya kepada Manan dan Aming.

Persoalan alat yang digunakan untuk membuat gambar, awalnya Aditya menggunakan Painshop yang merupakan software pada masa-masa sekolahnya di SMA. Kemudian software tersebut dipadu dengan potoshop dan sebagainya. Sehingga seluruh gambar yang dibuat diolah menjadi sebuah komik, karena tidak menemukan kepuasan jika hanya sekedar gambar.

Rencananya Aditita juga akan membuka kurasi untuk karya-karya yang satu spektrum dengan Aditita. “Bukan hanya yang disuka, tapi kalau memang menarik kenapa tidak, yang penting semangatnya tetap bertutur”, tegas Baita.

Untuk perkembangan audio box sendiri, Aditya melihat bahwa di indonesia sendiri masih standar, standar dalam artian cerita dengan iringan musik horornya yang belum dikembangkan lebih baik. “Bagi saya, yah dibebasin aja, kalau bisa semuanya kuat. Bahkan mungkin ketika hanya mendengar satu kata, sudah bisa terbayang horornya, yang penting pesan untuk nakut-nakutin bisa sampai”, tutur Aditya sembari tertawa dan juga menutup perbincangan Jalan Tikus bersama Aditya bercerita.

POTONGAN WAWANCARA: Pensil 324, Rally The Troops, Berto Tukan Cetak PDF dan Aditya Bercerita.