URBAN ART

jalantikus1.jpg

Seni dan Kota

oleh Khaerul Ikhsan

Membicarakan seni, ibarat memasuki sebuah ruangan tak berdinding, luas dan terbuka. Luas pengertiannya, dan terbuka bagi siapa saja untuk memberi pengertian atasnya. Seni telah menjadi topik peradaban manusia hampir-hampir sepanjang peradaban itu sendiri ada. Berbagai upaya mendefinisi serta mengafirmasi seni telah kerap kita kecap. Namun, tetap saja, seni selalu menjadi sesuatu yang liar yang tak pernah benar-benar berhasil tertangkap oleh definisi-definisi yang dilemparkan oleh manusia.

Di era yang sering kita sebut ‘baru’ ini, seni semakin lihai meloloskan diri dari jaring definisi yang dibuat oleh manusia. Di era ini, kita harus berterima bahwa pengertian seni tidak lagi melulu berasal dari sumber-sumber kanon atau adiluhung seperti di masa-masa lampau. Di era ini, semua berhak mendefinisikan semua. Tidak terkecuali, seni. Kemunculan ragam rupa seni di seluruh penjuru dunia, memaksa kembali manusia untuk menerima sekaligus mengulang upaya mendefinisikan seni berdasarkan fakta-fakta yang ada.

Di kota seperti Jakarta, salah satunya, seni muncul dalam bentuk-bentuknya yang paling tak terduga. Kompleksitas tatanan masyarakat di dalamnya juga turut mengkondisikan lahirnya praktek-praktek seni yang kompleks dan terbilang baru—jika disandingkan dengan wujud seni terdahulu—itu. Meski tak lepas dari tradisi seni di belahan dunia lain, praktek seni di tempat-tempat tertenu tetap saja memiliki ke-khas-annya tersendiri.

Pun demikian dengan kota Jakarta. Bermacam praktek seni muncul lalu menjamur ke mana-mana. Bentuk dan orientasinya pun beragam, sesuai dengan keprihatinan bahkan ideologi para pelakunya. Peraktek seni di wilayah perkotaan seperti Jakarta—atau di berbagai kota metropolitan lainnya di dunia—ini kerap dikenal sebagai seni perkotaan atau urban art. Mural, graffity, wall painting, seni visual digital, kolase, dan lain sebagainya, adalah beberapa contoh mutakhir praktek seni seperti tersebut.

Jalan-Tikus edisi ini akan membincangkan seni perkotaan dan prakteknya lebih dekat ke “lapangan”, dan langsung bersama para pegiatnya. Diiringi senda-gurau-garing Manan dan Oming, Jalan-Tikus akan berbincang dengan para pegiat komunitas Jakarta Wasted Artists, Visual Jalanan, Komunal Stensil, dan Cut And Rescue.

****

Jakarta Wasted Artists adalah sebuah komunitas seni yang terbentuk pada awal tahun 2010. Sejak awal berdirinya, komunitas ini aktif menghasilkan karya-karya visual—baik digital maupun non-digital, audio dan video-mixing, dan berbagai macam art project. Komunitas ini juga sering terlibat di berbagai even seni dari yang awam hingga yang akbar. Pada umumnya, karya dan kegiatan Jakarta Wasted Artists lebih bersifat ‘santai’, tidak dilatari oleh pandangan ideologis-filosofis apapun mengenai seni. JWA, begitu nama beken mereka, tidak jauh berbeda dengan komunitas seni urban pada umumnya, bertujuan untuk mendekatkan seni dengan masyarakat yang nyaris telah terhisap sepenuhnya ke dalam arus kesibukan kota.

Berdirinya JWA ini, pada mulanya dilandasi oleh kejengahan pada berbagai perihal konseptual mengenai definisi seni. “Pendidikan seni bangsa kita tuh masih sangat rendah, makanya perlu untuk mendekatkan dan memperkenalkan seni kepada masyarakat dengan kemasan yang lebih ringan dan mudah dimengerti” jelas Batman—sapaan akrab Henry Foundation (nama orang, bukan LSM).

Para pegiat JWA sendiri, tidak muluk-muluk dalam memahami seni. Bagi mereka, seni tidak sekompleks definisi yang kita baca di buku-buku teori. Inspirasi untuk menciptakan karya seni juga ada di mana-mana. “Kami ingin melakukan sesuatu yang konkret aja gitu. Mendekatkan seni dengan masyarakat. Dan, idenya berasal dari keseharian kita di tengah-tengah masyarakat” tutur Batman. Salah satu art project JWA yang sangat mencerminkan prinsip ini adalah Graphic Exchange project.

Ide untuk mengerjakan graphic exchange project datang dari hasil pengamatan sehari-hari. Melihat kota Jakarta sebagai salah satu kota yang mengalami ‘banjir visual’, para personil JWA menangkap sesuatu yang berbeda. Bagi mereka, hal remeh-temeh seperti plang toko atau usaha mulai dari yang raksasa hingga press ban dalam atau pecel lele, adalah sebuah karya visual. Meski kebanyakan masih dikerjakan oleh warga dengan cara manual. Menurut mereka, semua karya visual tersebut adalah penanda zaman. Inilah bukti konkret untuk melihat bagaimana masyarakat kita mempraktekkan seni.

Dalam project ini, JWAmenginfentarisasi segala macam bentuk karya visual plang-plang usaha menengah-ke-bawah warga kota Jakarta. Lalu, mereka menawarkan untuk menukarkan plang tersebut dengan plang yang dibuat oleh tim graphic exchange project—dengan berbagai macam koreksi yang telah dilakukan—hingga plang tersebut menjadi lebih layak dan minim ‘common mistake’. Dan yang paling penting, secara Cuma-Cuma. “Misalnya plang-plang usaha yang bertuliskan ‘Fermak Livais’ akan kita buatkan plang yang persis sama dari segi desain, tapi kita koreksi hingga tidak ada salah-salah penulisan ataupun informasi yang tercantum di plang tersebut” tambah Batman memperjelas. Plang asli yang berasal dari warga inilah yang kemudian dipamerkan dalam bentuk instalasi visual di even seni Jakarta Biennale 2015 lalu.

Begitulah, apa yang para personil JWA maksud sebagai karya seni yang benar-benar dapat berasal dan diperuntukkan bagi masyarakat. Selain project seni major seperti graphic exchange, JWA juga dikenal dengan project Saur Sepuh-nya. Sebuah karya video-mixing yang mengolah drama lawas Saur Sepuh sebagai bahan dasarnya. Selain itu, JWA juga membuat karya visual yang disematkan ke dalam berbagai media, semisal, kaos, poster, stiker dan berbagi aksesoris lain. Lebih lengkap mengenai karya-karya dan aktivitas JWA bisa dilihat di portal maya; jwaproject.org.

Secara sederhana, Jakarta Wasted Artists adalah komunitas yang bergulat dengan seni di ranah praktek, tanpa menihilkan konsep. “Yaa, kami memang bukan seniman” ujar Batman sedikit memberi penekanan. “Kami hanya sekelompok orang yang melihat realita dengan cara berbeda, lalu terilhami untuk berbuat sesuatu, dan berharap dapat menginspirasi orang lain juga, buat bikin sesuatu” kata Batman serius dalam nada bergurau.

***

Komunitas lain yang juga lahir dan tumbuh di Jakarta adalah Visual Jalanan. Aktivitas komunitas ini tidak jauh berbeda dengan komunitas sebelumnya, hanya—mungkin—komunitas yang satu ini sedikit lebih serius. Visual Jalanan dibentuk dari keresahan yang sama para personilnya. Mereka melihat, perkembangan praktek seni perkotaan akhir-akhir ini berkembang begitu pesat. Sebut saja mural dan grafiti, sangat banyak bertebaran di ruang-ruang kota Jakarta. Oleh karena itu, sekelompok anak muda ini berinisiatif untuk membentuk sebuah wadah yang dapat menjadi tempat untuk mengarsipkan semua karya-karya seni perkotaan ini. “Di jalan-jalan kota Jakarta, kita banyak melihat teks, grafis, iklan, himbauan pemerintah, sampai sign system. Dan itu cepet banget berubahnya. Dan, itu tuh nggak ada yang ngerekam atau mendokumentasikan secara spesifik. Nah, menurut kami ini penting untuk didokumentasikan” Abi Rama, menambahkan dengan sedikit serius.

Visual Jalanan ini merupakan salah satu inisiatif dari Forum Lenteng, Kampung SegArt. Sejak berdirinya, pada tahun 2012, Visual Jalanan mulai aktif mengerjakan kerja-kerja pengarsipan karya-karya visual di jalan-jalan kota Jakarta.

Secara teknis kerja pendokumentasian yang dilakukan Visual Jalanan terbagi dua. Pertama, mereka menurunkan tim tersendiri untuk mengelilingi ruang-ruang kota Jakarta dan mondokumentasikan setiap karya yang mereka temui. Selain itu, mereka juga menggunakan prinsip citizen jurnalism dan memanfaatkan kekuatan sosial media. Dengan cara ini, siapa saja dapat mengunggah foto dokumentasi karya-karya yang berasal dari mana saja dalam bentuk apa saja. Misalnya, patung, kesalahaan penulisan pada plang-plang toko atau iklan, spanduk, poster, mural, grafiti, dan sebagainya, lalu diberi hashtag (#)visualjalanan. Melalui proses kuratorial sedemikian rupa, karya-karya tersebut kemudian dirilis di semua portal maya yang dibuat khusus oleh Visual Jalanan, mulai dari website, facebook, twitter, hingga instagram, sesuai dengan tema yang ditentukan oleh tim redaksi Visual Jalanan. Tema terkahir yang mereka usung adalah mengenai isu peristiwa ’65 yang sedang berlangsung ‘pengadilan rakyat’-nya di negeri Belanda sana.

Melalui semua lini media maya itu pula, tim redaksi Visual Jalanan mengamati, memberi informasi lebih lengkap, dan memoderasi berbagai respon dari masyarakat. Respon tersebut, bisa melalui lini sosial media, atau melalui tulisan ulasan yang dikirim oleh audiens ke alamat e-mail redaksi Visual Jalanan. Dari sana, Visual Jalanan kemudia mengembangkannya menjadi sebuah gagasan untuk membuat semacam agenda bulanan untuk mengulas satu tema tertentu yang kemudian akan dirilis di halaman website. Lebih jauh lagi, jika memungkinkan, Visual Jalanan juga bercita-cita untuk membukukan semua tulisan yang pernah terbit di website secara berkala selama kurun waktu tertentu.

Di luar dari kerja-kerja reguler mendokumentasikan karya-karya visual di jalanan, Visual Jalanan juga mengerjakan proyek tertentu yang lebih spesifik. Proyek yang pernah mereka kerjakan adalah Visual Inside. Dalam proyek ini, Visual Jalanan melakukan pendokumentasian yang lebih spesifik ke grafiti dan street art. Mereka melakukannya di beberapa kota besar seperti , Jogja, Padang, Lombok, Depok, Semarang, Surabaya dan lain sebagainya.

Terakhir, Visual Jalanan diundang untuk terlibat dalam even Jakarta Biennale 2015 untuk melakukan pameran hasil kurasi karya-karya visual di jalanan yang pernah mereka arsipkan. Pameran ini diberi judul ‘Bebas Tapi Sopan’. Dalam even ini Visual Jalanan mengangkat kritik mengenai kebebasan berkegiatan seni di kota, yang masih mengandung unsur sensorship. “Yaa, katanya kita bebas, tapi toh misalnya, hari ini ada yang membuat grafiti di tempat-tempat tertentu di kota, eh.. besoknya udah dihapus oleh SatPol PP. Jadi paradoks juga, kita bebas tapi ternyata masih ada batasan-batasan tertentu yang diatur oleh pihak tertentu juga” ujar Michan menambahkan, sebelum wawancara diakhiri.

***

Seni, pada prakteknya memang tidak pernah tidak terkait dengan realitas zaman . Bisa saja, seni hadir sebagai refleksi zaman, dan dinikmati begitu saja sebagai pencapaian estetis peradaban manusia. Atau, bisa juga hadir untuk mengkoreksi ketimpangan-ketimpangan sosial yang tumbuh subur pada masanya. Komunitas yang berikut ini, lahir dari premis yang kedua.

Komunal Stensilnamanya. Komunitas ini dijalankan oleh hanya dua orang personil, yang identitasnya tidak ingin disebutkan. Mengingat, aktivitasnya yang—bagi pihak-pihak yang sedang bercokol di pucuk keuasaan—mungkin akan dianggap sebagai aktivitas subversif. Komunal Stensil berdiri pada tahun 2010. Sudah sejak mula-mula bertujuan untuk merespon berbagai macam isu sosial di dalam negeri yang tidak ada habisnya. Melalui media teks dan karya visual, online maupun offline, mereka menyuarakan berbagai kritik sosial yang ingin mereka sampaikan. Dalam nada bercanda Mas Bunga, dan Mas Bangkai—nama anonim mereka—menambahkan “tapi pada dasarnya Komunal Stensil ini dibentuk buat pengalihan aja dari ‘baper’nya kami” ungkapnya ketika ditanyai soal mengapa Komunal Stensil ini dibentuk.

Dalam menghasilkan karya, kedua personil Komunal Stensil ini saling berkolaborasi. Yang disebut sebagai mas Bunga, biasanya menerjemahkan keresahan Mas Bangkai ke dalam bentuk teks dan konsep visual, lalu kemudian dieksekusi menjadi sebuah karya visual oleh Mas Bangkai sendiri. Selama berdirinya, isu-isu besar yang pernah direspon oleh Komunal Stensil antara lain, kasus Munir, Salim Kancil, dan terakhir, tentang peristiwa ’65.

Karya-karya visual Komunal Stensil sangat sering ditemui di sosial media maupun di berbagai aksi demonstrasi yang ada di berbagai kota di dalam negeri. Semisal, kasus Salim Kancil. Desain stensil jasad salim kancil yang tergeletak bersimbah darah dengan teks “SUBUR TIRANI DI TANAH KAMI” dan “SALIM KANCIL DIBUNUH”, adalah salah satu karya mereka. Karya yang lainnya, adalah karya visual dengan tema kasus ‘65 yang di dalamnya terdapat teks: “500.000++ NYAWA, BUKAN CUMA ANGKA. MEREKA PERNAH BERNAMA DAN SEPENUHNYA MANUSIA”. Karya lain yang juga banyak ditemui adalah stensil foto Munir yang disertai teks “MENOLAK LUPA.”

Untuk isu peristiwa ’65, Komunal Stensil memiliki keresahan tersendiri. Menurut mereka, dalam proses rekonsiliasi konflik ‘65, satu hal yang luput adalah bagaimana proses pendidikan sejarah itu diteruskan kepada generasi muda. “Sampai saat ini belum ada revisi terhadap pendidikan sejarah kita. Masih versi ‘orde baru’, belum ada pelurusan” tutur Mas Bunga berapi-api. “Yaa.. hal seperti itulah yang penting bagi kami. Karena tanpa upaya seperti itu, rekonsiliasi sampai kapan pun hanya omong kosong. Selamanya PKI akan selalu jadi tokoh yang jahat. Kematian korban pembantaian pada masa silam itu hanya akan sia-sia, tidak akan pernah dibahas kembali . Ya wong mereka yang jahat kok” tambahnya.

Selain bekerja sendiri, Komunal Stensil juga berkolaborasi dengan pihak-pihak lain, namun dengan tetap mempertahankan anonimitas mereka. Misalnya, dengan redaksi Indoprogress.com. “Yaa kita bikin karya. Nah.. kalau ada yang cocok, misalnya kaya Indoprogress kemaren, yaa, mereka make karya kita”. Namun sebagai kolektif yang anonim, Komunal Stensil tidak peduli dengan hak cipta. “Begitu kita bikin sesuatu, kita harus berterima karya itu dipakai di mana-mana tanpa memberi timbal balik apa-apa. Dan memang seperti itu keyakinan kami. Prioritas kami, ya.. ketersebaran isu yang kami usung”.

Namun bagi kedua personil Komunal Stensil ini, merespon isu sosial tidak melulu dengan melakukan aksi langsung. Mereka lebih memilih mengambil posisi pada kerja-kerja wacana, untuk mengingatkan masyarakat bahwa ada banyak hal yang tidak boleh hilang dari ingatan kita. “Komunal Stensil sih nggak muluk-muluk. Misalnya, kita hanya ingin orang-orang tuh kembali mikir, peduli, dan  sadar akan apa yang telah, ataupun yang sedang terjadi. Itu saja! Setelah itu, kalau kalian mau merespon dengan demonstrasi, atau dengan berbagai macam bentuk gerakan lainnya, itu terserah kalian.” Untuk kedepannya, Komunal Stensil mengarahkan sebagian besar perhatiannya pada isu “wajib militer” dan “bela negara”.

Sebagai komunitas yang bisa dibilang mengerjakan hal-hal yang mendekati kata subversif, Komunal Stensil juga mawas terhadap berbagai kemungkina ancaman yang mereka hadapi. Misalnya, melalui lini media, mereka kerap menerima ancaman dari pihak yang tidak jelas. Akan tetapi Komunal Stensi masih tetap optimis bahwa sampai sejauh ini, anonimitas mereka masih tetap terjaga, “kecuali sama mantan, kalo itu kami nggak tau” celetuk Mas Bunga/ Bangkai menghamburkan tawa Manan dan Oming yang tengah serius.

***

Wajah seni perkotaan juga nampak melalui komunitas Cut And Rescue. Bermula dari kesamaan kesukaan membuat kolase, Ipul dan Godit mencetuskan ide untuk menerbitkan sebuah zine kompilasi yang berisi karya-karya kolase. Maka, pada tahun 2011 itu, dibentuklah Cut And Rescue, yang terinspirasi dari nama ‘keren’ Search And Rescue (SAR). Dan lagi, menurut Ipul, nama ini cukup mewakili prinsip karya seni kolase yang mereka geluti. “Membuat kolase itu, ya, menyelamatkan gambar. Misalnya, ada koran yang di dalamnya ada gambar bagus. Ya sudah, kita potong dan selamatkan menjadi karya baru, gitu.”

Sebagaimana mimpi awalnya, sejak tahun 2011 hingga 2015, CAR telah menerbitkan sebanyak tiga zine kolase. Meski masih terbilang sedikit, para personil CAR tetap fine-fine aja,karena memang mereka tidak bekerja di bawah deadline. Mereka menggunakan metode open submission untuk karya-karya kolase yang akan mereka terbitkan. “Metodenya, kita mengundang orang untuk mengirimkan karya kolasenya, lalu kita kumpulkan, untuk kemudian kita publish dalam bentuk zine foto copy-an”, jawab Ipul mengawali sesi wawancara.

Bagi mereka, sebagaimana yang sudah disebutkan tadi, kolase adalah sebuah prinsip yang tidak hanya dapat diterapkan pada media cetak seperti majalah atau koran. Dengan pemahaman seperti ini, ditambah dengan bergabungnya beberapa personil baru yang juga memiliki keahlian di bidang lain, CAR melakukan eksperimentasi kolase ke berbagai media baru seperti audio—dengan hasil akhir yang disebut mixtape, dan video. Salah satu karya CAR yang dikenal adalah ‘Sandiwara Radio’ dengan tema tentang ‘kota’. Mixtape ini diolah dari berbagai macam sumber audio.

Selain membuat karya, CAR pernah melakukan kolaborasi dengan Artlab dalam even ‘Jogja Met in Common’. Juga dalam even Frankfurt Suspicious Movement, CAR berkolaborasi dengan Oriza dan Saleh Husein. Selain itu, CAR juga sering diundang untuk mengisi workshop kolase yang diselenggarakan oleh komunitas lain.

November lalu, CAR juga berpartisipasi dalam Festival Daun Tanah yang diselenggarakan di Jatiwangi. Project terakhir mereka, berkolaborasi dengan salah satu institut seni dari Jerman untuk menggarap konsep audio sebuah even bertema urban dancer. Karya-karya yang pernah dibuat oleh CAR dapat dilihat melalui portal maya cutandrescue.org. Juga melalui instagram, tumblr, dan twitter. Sedangkan untuk karya audio dapat dinikmati melalui akun soundcloud Cut And Rescue.