PENDIDIKAN SENI

 

jalantikus

JALAN TIKUS BELAJAR SENI*

oleh Winda Anggriani

Tiga orang perempuan duduk di atas kursi kecil, saling berhadapan mengelilingi beberapa meja kecil yang didekatkan satu sama lain. Masing-masing menggenggam lembar-lembar berupa naskah. Di tengah ruang yang dipenuhi beragam warna cerah, mereka membacakan dialog bergantian. Sesekali diselingi gurauan. Mereka bukanlah para pemain teater profesional yang sedang berlatih. Namun mereka adalah ibu-ibu, warga Kelurahan Paseban, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, yang sedang belajar membaca naskah teater di pos Rukun Warga (RW), yang juga digunakan sebagai tempat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Di pos RW itu, di hari yang berbeda, ibu-ibu Paseban juga akan berkumpul membuat kerajinan tangan bersama-sama. “Jadi setiap hari rebo(Rabu),abis kelar urusan rumah tangga, dari jam satu siang sampai jam lima sore, kita ngumpul di pos RW,” ujar Irawita, perempuan yang menjadi motor penggerak ibu-ibu di Paseban.

IMG_0026

Ira, begitu ia akrab disapa, adalah seorang seniman teater. Ia menikah dengan Gallis Agus Sunardi, seorang seniman yang mendalami seni topeng. Pasutri ini, pada awal tahun 2001 berinisiatif membuat sebuah komunitas seni dan budaya di Paseban, daerah padat penduduk tempat mereka mengontrak rumah. Mereka ingin agar warga, mulai dari anak-anak hingga orang tua, aktif berkesenian. “Kebetulan waktu itu rumah yang kami sewa cukup luas, ada 703 meter persegi, jadi di dalam rumah itu ada lapangan yang kami pakai dan itu public space juga, terutama buat anak-anak,” ujarnya seraya menjelaskan bahwa Paseban adalah perkampungan urban, di mana sebagian warganya tinggal di rumah yang ia sebut RSSSSSSS, atau Rumah Sangat Sederhana Sehingga Selonjor Saja Sangat Susah.“Jangankan untuk lapangan bermain, lo selonjor aja susah,” tegasnya.

Ira dan Gallis membuka halaman rumah mereka untuk anak-anak bermain, sambil memerhatikan apa saja kebiasaan anak-anak yang tinggal di Paseban. Secara perlahan, Ira dan Gallis memperkenalkan dunia seni pada anak-anak dengan berbagai cara sederhana, misalnya membawa anak-anak ikut menonton pertunjukan teater. Mereka menyebut rumah Ira dan Gallis sebagai sanggar. Dari anak-anak, lalu remaja, sampai akhirnya ibu-ibu di Paseban pun tertarik untuk mengenal kegiatan di sanggar.

Sanggar ini kemudian diberi nama Komunitas Seni Budaya Paseban. Lewat komunitas seni inilah, Ira dan Gallis menggerakkan warga untuk aktif berkesenian.

Perlahan, ikatan pasutri ini dengan warga Paseban pun terbangun. Dorongan berkesenian warga pun muncul, kolaborasi seni antar warga pun tercipta. Salah satunya lewat acara Festival Kampung Paseban yang diadakan pada 2003.

Sebagai seorang seniman teater, Ira kerap bepergian ke luar kota untuk pentas. Ibu-ibu di Paseban pun mulai bertanya-tanya lebih jauh tentang seluk-beluk pekerjaan Ira sebagi seniman teater. Rupanya, rasa penasaran tersebut berujung pada keinginan beberapa ibu yang meminta diajarkan bermain teater.

Awalnya Ira ragu. Ia ingin melihat, sejauh apa keinginan mereka untuk mendalami teater. Ibu-ibu Paseban ini ternyata sungguh-sungguh. Pada Maret 2013, Ira akhirnya mulai mengajarkan para ibu rumah tangga ini tentang teater. Mereka menamai kelompoknya dengan nama Teater Pemberdayaan Perempuan Paseban. Anggota teater ini adalah perempuan berusia 25-55 tahun yang tinggal di Paseban. Karena kini rumah kontrakan Ira tak memiliki halaman cukup luas seperti dulu, maka latihan teater dilakukan di pos RW yang juga digunakan sebagai PAUD pada pagi harinya.

“Kenapa gue pilih dramatic reading? Dramatic reading ini salah satu basic dari teater, paling pas buat mereka, supaya mereka belajar membaca dulu,” jelas perempuan kelahiran 11 Januari 1973 silam ini.

Mulanya, ada anggota yang mengeluh tidak ada waktu untuk berlatih membaca naskah saat di rumah. Namun Ira berhasil meyakinkan kalau ini bisa dilakukan 30 menit saja, seusai mengerjakan rutinitas pekerjaan rumah tangga.

Ira mengajari ibu-ibu Paseban berlatih olah vokal, olah tubuh, pernafasan, dan artikulasi. Mereka berlatih dengan rutin, seminggu dua kali. “Luar biasa gue acunginempat jempol buat ibu-ibu Paseban ini. Biar kate ujan gledek(hujan petir), pas waktunya latihan mereka datang pakai payung ke pos RW,” ungkapnya dengan logat Betawi.

Latihan mereka pun tak sia-sia. Pada Festival Monas yang diselenggarakan Pemrov DKI untuk merayakan HUT DKI Juni lalu, kelompok teater ini mendapatkan kesempatan untuk pentas. Mereka membawakan sebuah dramatic reading bertajuk “Membaca Kartini”.

“Mereka senang banget ditonton di Monas, gue juga terharu,” kenang Ira. Di hari itu, siang hingga malam diisi berbagai pertunjukan musik dan tari. Giliran mereka tampil jam setengah sembilan malam, turun hujan. “Luar biasa penonton tidak ada yang pindah, tetap duduk mendengarkan,” tutur Ira yang kerap memberikan beragam pengetahuan seputar isu perempuan, seperti traficking dan kekerasan di dalam rumah tangga.

Ira yakin teater ibu-ibu Paseban ini memiliki prospek bagus ke depannya. Mereka memiliki semangat belajar yang tinggi.

***

Kisah dari Paseban adalah bukti bahwa pendidikan seni tidak harus lewat pendidikan formal, namun bisa lewat cara alternatif lainnya. Seperti juga misalnya yang dilakukan Komunitas Komik Lapas.

Komunitas Komik Lapas digagas oleh Abdurahman Saleh yang memiliki keprihatinan terhadap nasib anak-anak yang menjadi penghuni lapas.

Semuanya berawal pada tahun 2005, ketika Maman Seblat, begitu nama panggilannya, menjadi fotografer dan ingin memotret tentang pendidikan alternatif. Kebetulan temannya ada yang menjadi pendamping nara pidana anak di LP Tangerang. Ketika ia datang untuk melihat mereka belajar bahasa Inggris, temannya mengatakan bahwa ia juga bisa menggambar. Anak-anak pun minta diajari menggambar.

IMG_0692

Tahun 2006 akhirnya Maman mulai mengajari mereka membuat komik sederhana, komik hitam putih yang bisa dibuat dengan hanya menggunakan pensil atau ballpoint. Anak-anak pun sepakat memilih nama Komunitas Komik Lapas (Kolaps) untuk nama komunitas mereka. “Anak-anak sendiri yang bikin, mereka kasih nama sendiri, bikin logo sendiri,” jelas Maman yang merupakan sarjana seni rupa dari ISI Yogyakarta.

Ia memilih komik karena media ini bisa menjadi ajang curhat (mencurahkan isi hati) para anak-anak ini. Ada banyak sekali tema yang bisa diangkat. “Karena kehidupan siang dan malamnya saja beda,” tegasnya.

Anak-anak mulanya diminta membuat cerita tentang diri mereka masing-masing; memperkenalkan diri lewat komik. “Mereka akan cerita tinggi badannya berapa, berat badannya berapa, ciri khas di tubuhnya apa, sehingga mereka belajar mengidentifikasi diri secara otomatis, dan diharapkan akan menumbuhkan kesadaran akan diri mereka sendiri,” paparnya.

Tema selanjutnya adalah ekspresi. Anak-anak diminta menceritakan perasaannya hari ini. Bagi mereka itu menyenangkan,” tuturnya. Setelah itu masuk ke berbagai subtema lainnya, misalnya tentang cinta.

Setelah membuat komik, Maman akan meminta anak-anak untuk mempresentasikan komik buatannya. Ia sengaja melakukan ini untuk melatih kepercayaan diri mereka.

Dari komik-komik yang dibuat oleh anak-anak ini, Maman mendapatkan gambaran tentang pikiran dan perasaan mereka. Anak-anak juga dilatih membuat komik puisi dengan mengilustrasikan cerpen dan syair lagu.

Dalam proses pengajaran ini, Maman mengesampingkan teknik. “Gue mengenolkan teknik, jadi ini memudahkan dan menyenangkan,” jelasnya. Strateginya, biarkan mereka menggambar sesuka hatinya. Setelah itu baru ia mulai mengajari teknik-teknik dasar, misalnya teknik arsir dan blok.

Kelas komik biasanya sambil duduk lesehan. Maman selalu berusaha menempatkan posisi sebagai teman bagi anak-anak ini. Ia tak punya target muluk-muluk. Ia hanya ingin anak-anak ini bisa mengungkapkan perasaannya lewat komik. “Minimal, lewat komik mereka bisa merasakan bedanya diperlakukan sebagai manusia, karena di situ dia boleh cerita, bisa mengungkapkan perasaan, itu harapannya, karena itulah posisi ketika dia enggak menjadi tahanan,” tuturnya.

Selain bisa membuat komik, anak-anak pun pernah diajari mengenai gambar bergerak. Dalam workshop gambar bergerak ini, anak-anak menggambar, memotret, lalu digerakkan seperti slow motion. Gambar bergerak ini dijadikan video dengan durasi masing-masing satu menit.

Sejak 2006 sampai dengan sekarang, Maman telah membimbing secara intensif enam angkatan. Setiap tahun, ketika kelas dibuka, jumlah anak yang bergabung bisa mencapai 50 orang. Namun banyak yang berguguran di tengah jalan. Rata-rata yang bertahan sampai akhir kelas sebanyak 25 orang peserta. Anak-anak ini telah menerbitkan 5 buku komik dan 6 edisi majalah komik.

Walaupun sempat juga ada lapas anak perempuan yang bergabung belajar komik dengan lapas anak pria, namun sejauh ini belum intensif mengikuti kelas.

Selain bergantung pada keseriusan anak dalam belajar, perkembangan kelas komik yang ia bina sangat bergantung pada kebijakan kepala lapasnya. “Gue sempat merasakan satu era kepala lapasnya asyik dan terbuka, jadi gue sampai bisa bawa 30 nara pidana keluar ke TIM (Taman Ismail Marzuki), mereka tak suruh pameran,” ungkapnya. Namun ketika lapas berganti pimpinan, membawa satu orang saja, tidak dizinkan.

Selain di LP Anak Tangerang, Maman juga pernah menyelenggarakan workshop komik di LP Anak di Blitar, Kutoharjo, dan Palembang. Ia ingin sekali bisa kembali lagi mengajar di LP Anak Palembang, karena terkesan dengan kreativitas anak-anak di sana. Selama 4 hari workshop, ia bisa membawa pulang 80 komik dari Palembang dan dijadikan 1 buku komik. Seperti Kolaps di Tangerang, anak-anak di kota Palembang membuat sebuah wadah yang diberi nama Komunitas Anak Pakjo Palembang (Kompak). “Kelemahannya adalah, ketika gue gak ada di sana, enggak jalan,” ungkapnya. Maman pun akhirnya meminta bantuan teman-temannya di Palembang agar bisa membantu meneruskan kegiatan ini.

Kedekatan Maman dengan anak didiknya pun berlanjut sampai mereka keluar dari lapas. Bahkan beberapa anak yang sudah habis masa tahanannya, ia antarkan pada keluarganya. “Waktu bebas ‘kan mereka ada yang enggak berani pulang, risikonya gue yang harus anterin pulang,” jelasnya. Beberapa anak bahkan sempat singgah di rumahnya. Sehingga rumah kontrakannya sempat menjadi rumah singgah bagi anak-anak ini.

Pada 2007, anak-anak eks-lapas muridnya ini mendirikan komunitas bernama Rumah Tanpa Jendela (RTJ). Anak-anak ini membuat komik yang dikompilasikan dalam buku komik berjudul “Ndak Lagi-lagi”.

Pada 2009, komik kompilasi ini dibawa Maman roadshow ke tujuh sekolah di Jakarta, sekaligus ia menggelar workshop membuat komik dengan judul “Jangan Sampai Masuk Bui”. Workshop ini juga merupakan program kerja sama dengan Biennale Jakarta 2009. “Dengan Biennale itu ‘kan kita konsep ruang, anak-anak dari luar kita bawa ke lapas, anak lapas diinteraksikan dengan mereka,” jelasnya. Sehingga peserta program bisa bertukar pengalaman terkait ruang. Misalnya anak SMA bercerita ia punya masalah di kamarnya tidak enak karena harus tidur dengan adiknya atau karena tidak ada AC. Nah, anak lapas bercerita kalau mereka harus satu kamar dengan 8 orang. Setelah selesai berbagi soal ruang, mereka mengikuti workshop “Jangan Sampai Masuk Bui”, yang mengangkat tema-tema seputar: mengapa kita masuk penjara. Hasil workshop-nya dipamerkan di Lapas tersebut.

Diakui Maman, anak lapas didikannya memang belum ada yang terjun menjadi komikus. Namun di antara mereka, ketika keluar lapas, ada yang tertarik bekerja di bidang yang masih terkait dengan dunia seni. Misalnya saja, ada yang ingin bekerja di bidang desain grafis sebagai lay outer buku. Namun tetap saja kendalanya pada kesempatan yang ada. Akhirnya, sebagian besar dari mereka bekerja di sektor informal sebagai pedagang atau bekerja di pabrik. “Yang paling nyata anak-anak bikin ilustrasi dan mural, itu beberapa anak sudah diajak bekerja sama,” tuturnya.

Saat ini RTJ juga mulai melibatkan relawan di luar anak eks-lapas. “Dari luar, yang intens di RTJ ada empat anak. Mereka relawan pure, bukan anak eks-lapas, yang selalu konsisten nge-back up RTJ,” ujar Maman yang kini melakukan pendekatan pada komunitas-komunitas dan LSM yang tertarik mendukung program RTJ. Para relawan itu membantunya menjadi fasilitator di lapas, mengajar komik di lapas. Kendalanya, saat ini tidak mudah mencari relawan yang bisa membuat komik sekaligus bisa mengobrol dengan anak-anak. Ada yang pandai membuat komik, tapi sulit mengobrol dengan anak-anak. Sehingga baru empat orang ini saja yang bisa membantu. Ia berharap ke depannya, akan lebih banyak lagi relawan yang bisa menjadi fasilitator membantunya memfasilitasi kelas komik di lapas anak.

***

Jika para ibu rumah tangga di Paseban belajar seni memanfaatkan pos RW, anak-anak tahanan mendapat kesempatan belajar komik di lapasnya, maka Komunitas TROTOARt dan Galeri Jalanan Bau Tanah menjadikan arena trotoar dan pelataran stasiun sebagai area belajar seni.

img366

Komunitas TROTOARt awalnya merupakan wadah berkumpulnya para pelukis yang mangkal di Jalan Pintu Besar Selatan, Kawasan Kota Tua, Penjaringan, Jakarta Utara. Sebelumnya sudah ada wadah yang disebut KEPBES (Kesatuan Pintu Besar). Namun, terjadi benturan konsep di antara para pelaku seni tersebut, antara sisi komersial dan penciptaan karya berdasarkan ide. Akhirnya, berujung pada pemikiran, penciptaan seni yang target utamanya bukan pada materi. Inilah awal terbentuknya TROTOARt pada Mei 2001. “Orientasi kami jadi pelukis jalanan itu berbeda-beda, kalau aku, tidak ada targetan untuk cari nafkah, memang total berkesenian,” ujar Jhons Patriatik Karlah, salah satu penggagas TROTOARt.

Gong pertama publikasi kepada publik TROTOARt adalah melalui event Jak Art 2001. Komunitas ini membuat lukisan mural. Dengan berubah menjadi komunitas yang lebih mengedepankan proses berkesenian, mereka terbuka kepada siapa saja yang ingin belajar melukis. Sehingga tidak terbatas pada pelukis di Kawasan Kota Tua saja. Perlahan, banyak yang datang untuk belajar melukis. Mulai dari anak jalanan yang ingin belajar melukis, sampai dengan mahasiswa fakultas seni rupa.

Komunitas ini tidak secara khusus membuat kegiatan untuk menarik murid. Murid datang secara alamiah. “Istilahnya, kita manusia, bisa menangkap sinyal apapun. Ini orang jatuh cinta, orang senang atau itikadnya buruk, saat bersentuhan akan terasa, berinteraksi dengan sesama ya kalau ada yang mau belajar, saya ajari,” ujar pelukis otodidak yang telah melukis sejak duduk di kelas 2 sekolah dasar ini.

Lewat komunitas TROTOARt, area trotoar jalan kini bukan hanya sebagai tempat pejalan kaki berlalu-lalang dan mangkalnya para pelukis jalanan, namun menjadi ruang belajar seni lukis.

“Jumlah murid yang sudah belajar ya puluhan, bahkan ada yang sudah mangkal,” tutur Jhons yang kini telah melakukan pameran lukisan bersama, salah satunya “Street Gallery Exhibition” di Hotel Saripan Pacific, Jakarta.

Komunitas ini kini telah berpartisipasi di banyak kegiatan seni, seperti Festival Kota Tua, Ancol Art Festival, dan Batavia Art Festival.

Hal yang masih menjadi kendala komunitas ini adalah sekretariat. “Kendala TROTOARt, ya dukungan untuk sekretariat,” tandas Jhons yang kini juga membantu dalam program Gerobak Bioskop ruangrupa.

***

Tak jauh berbeda dengan TROTOARt, Galeri Bautanah juga memanfaatkan trotoar dan pelataran Stasiun Cikini sebagai ruang belajar anggota komunitasnya. Meskipun semangat mendirikan komunitas ini telah ada sejak tahun 1994, namun Galeri Jalanan Bautanah baru berdiri pada 2005 di Stasiun Cikini, bertepatan dengan Pameran Foto Refi Mascot, yang mengangkat peristiwa tsunami Aceh yang terjadi pada akhir 2004.

“Awalnya kami pecinta alam, ya melukis dan foto,” jelas Radian, Humas Galeri Jalanan Bautanah. “Kami mendirikan Bautanah dengan semangat dan kepercayaan dari teman-teman, berbagai orang yang karyanya mau dititipin, modalnya patungan dan pertemanan,” imbuhnya.

61418_3880831578534_1979381691_n

Tahun 2010, komunitas ini mulai aktif membuat berbagai workshop. Mulai dari workshop fotografi, kamera lubang jarum, menulis, melukis, sampai dengan kelas bahasa Inggris dan bahasa Perancis. Semua orang boleh mendaftar dan mengikuti kelas ini secara gratis. Pengajarnya pun para relawan yang dengan sukarela ingin berbagi kemampuan yang dimilikinya.

Setiap tahunnya, peserta kelas fotografi telah membuat karya yang dipamerkan di pelataran Stasiun Cikini. Galeri ini telah menjadi ruang publik untuk belajar seni. Sama seperti TROTOARt, Galeri Jalanan Bautanah pun mengharapkan sebuah sekretariat tetap. “Harapan ya, Jokowi ‘kan sekarang lagi memberdayakan komunitas, kita butuh tempat yang nyaman,” tutur Radian.

***

Komunitas Seni Budaya Paseban, Komunitas Komik Lapas, TROTOARt, dan Galeri Jalanan Bautanah adalah bukti bahwa pendidikan seni alternatif bisa berjalan dengan cara swadaya; memanfaatkan apa yang kita miliki. Asalkan ada keinginan yang kuat dan komitmen untuk menjalankannya.

Agar pendidikan seni alternatif bisa lebih berkembang ke depannya, bukan hanya Pemerintah, namun perlu juga didukung oleh semua warga kota. Karena seni sejatinya ada di dalam diri setiap individu, sehingga akses mendapatkan pendidikan senipun harus menjadi milik setiap individu.

*Artikel ini disarikan dari program rurushopradio Jalan Tikus, tema Pendidikan Seni

POTONGAN WAWANCARA: Komunitas Paseban, Galeri Jalanan Bau Tanah, Komunitas Komik Curhat dan Trotoart

 

ARSIP VIDEO ruangrupa: Oomleo Bercerita  (2004)