OLAH RAGA

jalantikus1.jpg

Komunitas Olahraga dan Ruang yang Terlupakan

oleh Jenni Anggita

Apa yang dapat menyatukan orang di muka bumi ini, meskipun terhalang batas-batas negara, berbeda suku, agama, ekonomi, pandangan hidup, dan ras? Tentu saja salah satu jawabannya adalah olahraga. Ya, olahraga memang salah satu linguafranca manusia di bumi.

Juni 2014, perhatian hampir semua umat di dunia ini tertuju pada Brazil. Semua mata mengarah ke benda bulat terbuat dari kulit, menghubungkan orang-orang di mana pun untuk menyaksikan Piala Dunia yang hanya digelar empat tahun sekali. Tiga puluh dua negara bertarung demi prestasi dan gengsi.

Sepakbola khususnya dan olahraga umumnya tidak sesederhana masa Yunani dan Romawi dahulu kala. Olahraga bukan lagi sekadar sarana untuk kesehatan seperti semboyan mens sana in corpore sano. Olahraga bisa berarti segala-galanya. Di Amerika Latin sepakbola bak agama bagi masyarakatnya. Di Eropa Barat, olahraga adalah industri, bisnis, dan sarana sosial yang manjur. Di Eropa Timur olahraga adalah sarana politik. Di Afrika dan Asia olahraga mengandung unsur nasionalisme. Di dunia Timur olahraga bisa berbau mistik atau religius. Melalui olahraga kita dapat melihat harga diri, kekecewaan, harapan, pertengkaran, politik, dan perbedaan kelas.

Bukan Sekadar Mengolah Raga

Istilah sport bukan berasal dari bahasa inggris, melainkan dari bahasa Prancis desporter yang berarti membuang lelah. Dalam ensiklopedi Jerman, Der Grosze Brockhaus, sport adalah pemuasan, hobi, suatu tindakan yang dilakukan demi kepentingan diri sendiri, akibat kesenangan setelah mengatasi kesulitan-kesulitan dan umumnya di bawah pengakuan atas peraturan-peraturan tertentu secara suka rela, lebih-lebih di bidang latihan-latihan jasmani.

Istilah olahraga sebagai padanan kata sport merupakan kata asli Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, olahraga adalah gerak badan untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh seperti sepakbola, berenang, dst. Pengertian itu tak berbeda dengan dalam Kamus Poerwadarminta.

Dahulu kala, arti olahraga cenderung mengolah tubuh atau raga atau bertujuan untuk menjadi sehat dan kuat. Suatu persoalan yang sifatnya jasmaniah, bukan rohaniah. Dengan kata lain, terjadi dikotomi antara jiwa dan raga. Padahal, filsafat timur memandang bawa tubuh manusia merupakan bagian dari satu keutuhan (unity) bersama dengan jiwa. Secara lebih luas, terdapat pandangan bahwa tubuh manusia merupakan suatu keutuhan bersama-sama dengan alam. Oleh karena itu, olah raga dipandang bukan hanya olah tubuh, melainkan juga semacam latihan mempersatukan diri dengan alam. Begitu pun halnya bagi Bangsa Romawi yang menganggap bahwa di dalam tubuh dan jiwa yang sehat itulah manusia sempurna. Dengan kata lain, bagi bangsa Romawi tubuh sama penting dengan jiwa atau rohani, keduanya harus sehat.

Ilmu kedokteran berpendapat bahwa olahraga sungguh diperlukan manusia demi mendapatkan dan memelihara manusia yang utuh untuk tugas dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya itu, olahraga juga diharapkan dapat “membuang lelah” atau sejenak melupakan kesulitan hidup, sehingga dapat mengumpulkan daya baru untuk menjalankan kehidupan sehari-hari.

Menurut Napitupulu dalam majalah Prisma (1978: 17), usaha pembinaan keolahragaan tidak lepas dari usaha-usaha pendidikan nasional dan pembudayaan bangsa Indonesia. Singkat kata, tujuan pembinaan keolahragaan tidak terpisahkan dari tujuan pendidikan. Olahraga di sekolah telah mengalami perkembangan dari masa ke masa. Pentingnya olahraga sudah dituliskan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (TAP MPR Nomor IV/MPR/1978, hlm.114) bahwa “Pendidikan dan Kegiatan olahraga ditingkatkan dan disebarluaskan sebagai cara pembinaan kesehatan jasmani dan rohani bagi setiap orang dalam rangka pembinaan bangsa.”

Dengan demikian, olahraga bukan hanya melatih orang untuk terampil dalam olahraga tertentu saja karena ada nilai-nilai yang ditanamkan, dipupuk, juga sikap mental kejujuran, keberanian, sportivitas, dan lainnya. Olahraga penting karena berperan membina manusia semakin utuh. Melalui kacamata yang lebih luas, juga dapat mendorong kemajuan atau pembaharuan segi-segi kehidupan lain seperti gizi, kesehatan, penghijauan, dan lainnya.

Ruang Sisa untuk Olahraga

Tulisan ini berusaha melihat empat komunitas olahraga yang tengah berkembang di Jakarta. Ke-empat komunitas tersebut adalah komunitas lari IndoRunners, komunitas fulsal di Penjaringan (EXOTIC), komunitas catur di Tebet (Kombinasi Club), dan komunitas lempar pisau yang terkenal dengan nama Jakarta Knife Thrower Indonesia. Mari kita lihat bagaimana komunitas olah raga tersebut bertahan dalam keterbatasan ruang yang ditawarkan sebuah kota. Minimnya peran pemerintah dalam mengakomodir aktivitas warga kota tak menghentikan langkah k-eempat komunitas olahraga tersebut berkegiatan dan mengukir prestasi.

 Exotic

“Ide awalnya sederhana, ada tanah kosong, di sebelah tol, kenapa gak dimanfaatkan, padahal luas banget. Jadilah lapangan yang berada di kolong jembatan. Lapangan ini kemudian diberi nama dengan Lapangan Memble,” ujar Andre, salah satu anggota Exotic. Nama lapangan itu, diplesetkan dari Stadion Wembley yang terletak di Embley Park, London Borough of Brent, Inggris.

Tanah kosong yang dimaksud terletak di sebelah tol Penjaringan. Lapangan itu digunakan oleh penduduk sekitar, khususnya Exotic  sebagai tempat untuk berolahraga. Exotic sendiri merupakan kumpulan pemuda Rw. 15 Penjaringan.

Kendati izin dari Jasa Marga untuk menggunakan tanah kosong di sebelah tol sudah dikantongi, tak ada bantuan atau perhatian dari pemerintah setempat untuk lebih memperhatikan lapangan itu. Sampai saat program Jakarta Biennale 2013, TROTOARt serta Jatiwangi Art Factory (JAF) berinisiatif untuk membuat lapangan futsal bagi warga. Bersama Exotic dan Suku Dinas Kebersihan Jakarta Utara, mereka bersama-sama membersihkan timbunan sampah, kemudian menyiasati lapangan seadanya yang berukuran 12 x 30 meter di kolong jembatan tersebut.

Prosesnya tidak mudah. Karena kolong jembatan itu dibagi-bagi sebagai tempat parkir motor, truk, dan pengepulan sampah. Untuk mewujudkan lapangan ini, mereka harus “berebut” ruang dengan kepentingan warga lainnya. Dalam kehidupan masyarakat urban yang individualistik, nyatanya ego dari masing-masing kelompok itu dapat ditekan dengan menomorsatukan kepentingan bersama. Dengan terwujudnya Lapangan Memble, terbukti masih ada kerinduan warga Penjaringan untuk berkumpul dan berolahraga.

Exotic sempat mengucap terima kasih pada program Jakarta Biennale 2013 yang lalu. Pasalnya, di sekitar kawasan mereka tak banyak ruang yang dapat memfasilitasi anak-anak, muda-mudi, atau orangtua untuk berkegiatan secara bersama-sama. “Kegiatan di lapangan banyak selain futsal, ada bulu tangkis, SKJ (Senam Kesegaran Jasmani) untuk ibu-ibu, juga pernah digunakan berkumpul membuat barang kerajinan.” Warga juga menggunakan lapangan tersebut untuk sekadar melepas lelah, mengobrol, atau bermain gitar.

Kombinasi Club

Dari futsal, mari beralih ke catur. Sejak dahulu kala, catur telah lama diperdebatkan. Apakah sekadar permainan saja, atau juga merupakan seni atau ilmu. Catur dapat dialegorikan dengan peperangan, permainan perang. Dahulu kala, tujuan para penguasa memomulerkan catur kepada rakyatnya agar rakyatnya cerdas. Namun, ada juga penguasa yang melarang rakyatnya bermain catur seperti para Khalifah di Timur Tengah dan pembesar gereja Roma Katholik.

Catur dianggap mampu mengasah otak. Bahkan, konon katanya banyak tokoh-tokoh dunia yang menggunakan catur untuk mengasah otaknya. Mereka di antaranya, Napoleon, Benyamin Franklin, Abraham Lincoln, Edgar Allan Poe. Catur digemari bukan hanya di dunia barat saja, di timur yaitu di Persia (sekarang Iran), Arab, India, Tiongkok, Malaysia, Burma dan Indonesia.

Komunitas yang satu ini terbentuk awalnya karena orang-orang dari berbagai komunitas yang hobi bermain catur rajin berkumpul di Tebet. Jumlah mereka kurang lebih 50 orang. Selanjutnya, mereka memiliki ide untuk membangun sebuah komunitas karena menyadari bahwa begitu banyak potensi yang dapat dikembangkan anggota-anggota mereka. Komunitas catur ini kemudian menamai diri mereka sebagai Kombinasi Club. “Kombinasi artinya suatu serangan yang tak dapat ditangkis. Itu disebut teknik strategi main catur,” ujar Pak Ahmat selaku anggota menerangkan arti nama Kombinasi Club.

Suara bising bajaj, teriakan kondektur metro mini, atau kumandang suara kereta yang melintas bukanlah kendala bagi penggila catur. Suara-suara ini sudah karib di telinga mereka. Inilah keunikan tempat yang digunakan oleh Kombinasi Club, yaitu di kolong jembatan layang Gudang Peluru, Tebet, Jakarta Selatan. Di sampingnya, terletak perlintasan kereta api Tebet.

Dulunya, tempat ini merupakan taman kosong tak terlalu terawat. Kita dapat lihat kreativitas para penggila catur ini memanfaatkan ruang yang kurang fungsional. Pada dasarnya kegiatan ini tidak membutuhkan tempat luas seperti pada permainan bulu tangkis. Pada 2009, program Jakarta Biennale memperbaharui taman ini. Para seniman menciptakan papan catur yang dilukis di atas meja beserta kursinya. Meja dan kursi tersebut dirancang untuk 16 orang.

Sekarang ini, ketika Kombinasi Club mulai naik daun, para anggota sudah semakin memikirkan sarana dan prasarana yang mendukung. Tempat yang strategis karena dilalui orang-orang di berbagai kalangan dengan status sosial beragam. Ada karyawan, usai mereka bekerja, pedagang kaki lima, supir angkot, wartawan, mahasiswa dan remaja. Setiap yang lewat boleh ikut nimbrung, bermain catur di sana. Dengan keterbukaan macam itu, ternyata sanggup membuka ruang interaksi sosial orang-orang yang tak saling mengenal sebelumnya. Singkat kata, selain mengasah otak, olahraga murah meriah ini sanggup menawarkan persahabatan, suasana kekeluargaan, serta menghilangkan lelah atau penat, sekadar keluar dari rutinitas di tengah kebisingan kota.

“Komunitas catur ini sebenarnya wadah generasi muda berolah raga bermain catur yg perlu mendapat dukungan,” Ujar Pak Ahmat selaku salah satu anggota. Menurut Pak Ahmat, di sekitar masih ada lahan-lahan potensial yang dapat digunakan untuk bermain seperti badminton. Tujuannya yang terpenting adalah memberdayakan masyarakat dan generasi muda akan datang. Kendati minim peran pemerintah setempat.

Baik pihak kecamatan dan kelurahan setempat mendukung aksi positif yang dilakukan Kombinasi Club. Namun, tak ada dukungan riil dari mereka. Padahal, fasilitas sarana dan prasarana untuk bermain seperti papan catur dan lampu penerangan sangat diperlukan. Mereka pun sebenarnya siap apabila diadakan diskusi dengan Kelurahan atau Kecamatan setempat supaya mendapatkan wadah yang resmi. Mereka juga terbuka pada bantuan sponsor.

Para anggota sudah mulai memikirkan bagaimana cara meningkatkan kemampuan anggota, sarana dan prasarana, manajemen komunitas, dan struktur kepengurusan. Kendati terdapat berbagai keterbatasan, salah satunya adalah dana, Kombinasi Club telah berprestasi bukan hanya di turnamen dalam dan luar negeri.

Jakarta Knife Thrower Indonesia

Olahraga berikut ini memang belum terlalu populer di Indonesia, padahal sudah ada sejak tahun 80-an. Olahraga yang dimaksud adalah lempar pisau. Awalnya, sekitar tahun 1987, beberapa mahasiswa seni rupa ITB melepas kejenuhan mereka dengan melempar pisau ke sasaran. Lambat laun, bermunculan orang-orang yang juga tertarik dengan olahraga ini. Mereka pun menamai diri D’lempis.

Selanjutnya, D’lempis berkembang menjadi Jakarta Knife Thrower Indinesia (JKT1) yang dikembangkan oleh Thoriq di Jakarta bersama beberapa pelempar pisau lain pada Juni 2011. “Anggotanya ada 70 orang, tapi yang aktif sekitar 30-an,” ujar Thoriq. Selain di Bandung dan Jakarta komunitas ini juga ada di Bandar Lampung dan sedang berusaha dihidupkan di Surabaya dan Malang.

Meski namanya terkesan tak familiar, JKT1 sudah memiliki jadwal latihan khusus setiap Rabu dan Sabtu. Mereka juga sering ikut serta dalam turnamen baik tingkat nasional, maupun internasional. Salah satu anggota juga pernah meraih juara dalam pertandingan di luar negeri. Bahkan, ada anggota JKT1 yang diminta untuk melatih anggota TNI.

Mengerikan memang melihat seseorang memegang pisau diayunkan lalu diterbangkan ke arah sasaran. Jangan kira orang awam dapat dengan mudah melempar pisau. Tentu tidak, karena olahraga ini butuh banyak latihan. Para anggota tidak boleh sembarangan melempar pisau apalagi untuk melukai makhluk hidup. Itu tabu bagi mereka karena tujuan mereka melempar pisau untuk olahraga. Bahkan kalau mereka dalam keadaan emosional, pisau yang mereka lempar tidak akan dapat tertancap di sasaran. Pisau yang mereka gunakan pun tidak boleh sembarangan. Ada berbagai jenis, ukuran, dan dipesan khusus dari Amerika karena di Indonesia tidak ada.

Di Amerika sendiri lempar pisau populer di akhir abad ke-19. Padahal, kalau ditarik jauh ke belakang kegiatan melempar pisau ini sebenarnya sudah ada sejak masa berburu. Selain itu, dalam ilmu bela diri seperti di Jepang, lempar pisau telah digunakan oleh para Samurai dan Ninja. Penduduk asli Afrika dan Indian Amerika juga konon katanya terampil melempar pisau.

Sebagai tempat mereka berlatih, anggota JKT1 biasanya memakai ruang di Taman Langsat, Barito, Jakarta Selatan. menggunakan salah satu sudut di belakang lapangan tenis. Di sana berdiri papan panjang sekali beserta tempat-tempat yang menjadi sasaran si pisau. Semua itu tertata dengan apik. Kendati banyak rumor yang mengatakan taman itu angker, sebenarnya taman tersebut sangat hijau dan nyaman untuk berolahraga karena masih banyak pohon-pohon berdiri menjulang di sana. Di ruang terbuka hijau itu juga telah disediakan jogging track. Kehadiran JKT1 di taman ini, menggerakkan warga untuk ikut serta beraktivitas di Taman Langsat.

 IndoRunners

Mari selanjutnya kita lihat IndoRunners, komunitas penggemar olanraga lari terbesar di Indonesia. Didirikan tahun 2009, IndoRunners adalah komunitas yang menyebarkan “virus lari” ke masyarakat. Komunitas ini bukan hanya di Jakarta saja, tapi juga di kota besar Indonesia lain seperti Bandung, Surabaya, Bali, Yogyakarta, Medan, dan Makasar. Bahkan sampai di luar negeri yaitu di Singapura, Berlin, Las Vegas. Anggota IndoRunners sudah lebih dari 40.000 orang dari tingkat pemula hingga profesional.

Lari memang merupakan olahraga yang mudah dilakukan karena tak perlu memakai alat apa pun dan tak terbatas usia, jenis kelamin, profesi, status sosial, dan lainnya. Maka tak heran kalau anggota IndoRunners dari berbagai kalangan. Tapi menurut Yomi, paling banyak adalah karyawan. Komunitas ini memang bertujuan supaya masyarakat Indonesia semakin menyadari dan ikut serta bergaya hidup sehat.

Yomi menceritakan bahwa awalnya komunitas ini berdiri karena Jalanan Sudirman Thamrin. Ketika Car Free Day, para pelari saling bertemu. Awalnya dari yang tidak kenal lama kelamaan saling menyapa dan tercetuslah komunitas itu. “Karena warga kota sangat sibuk, keinginan kumpul pun sangat tinggi,” ungkap Yomi Wardhana, co-founder IndoRunners.

IndoRunners sendiri selalu berpartisiasi di berbagai acara baik dalam skala lokal, regional nasional, sampai internasional. Mereka memiliki program-program menarik dan siapa saja boleh langsung bergabung. Beberapa di antaranya seperti Sunday Morning Run, lari di Minggu pagi pukul 06.00 dengan rute FX-Bunderan HI-FX, Thursday Night Run setiap Kamis malam pukul 20.00 dengan rute GBK Senayan, Saturday Zoo Run, satu kali sebulan berlari di dalam kebun binatang Ragunan, dan terbuka untuk berbagai kegiatan lain dengan komunitas atau lembaga mana pun. Komunitas yang didirikan di antaranya oleh Reza Puspo dan Yomi Wardhana ini juga telah mendapat berbagai penghargaan.

IndoRunners memanfaatkan Car Free Day setiap minggunya untuk lari bersama di sekitaran Jalan M.H.Thamrin. Kalau hari kerja, rute ini seperti seolah tak pernah terlelap, saat Car Free Day tak ada kendaraan melintas, sehingga warga kota dapat memanfaatkan kebijakan ini untuk berolahraga.

Car Free Day sendiri telah ada sejak tahun 70-an di Amerika, juga di beberapa kota di Eropa awal 90-an. Di Eropa Car Free Day dilaksanakan sebagai proyek percontohan kampanye Uni Eropa “Kota Tanpa Mobil”. Sementara di Indonesia, kota pertama yang menyelenggarakan Car Free Day adalah Surabaya, pada 2000. Baru kemudian, tahun 2002 Jakarta melakukan hal serupa. Ketika dirasa manfaatnya begitu banyak, maka pada tahun 2005 melalui Perda no.2 tahun 2005 tentang Pencemaran Udara, Pemprov DKI Jakarta mewajibkan melaksanakan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) sebulan sekali di kawasan tertentu di Jakarta. Kemudian, ditiru oleh kota-kota besar lainnya.

Inilah salah satu kebijakan pemerintah yang tepat dalam menyediakan ruang bagi warga kota. Bukan sekadar mengolah raga, tapi juga memfasilitasi warga bersosialisasai dengan teman dan keluarga. Lama-kelamaan kegiatan Car Free Day ini membudaya bagi warga kota. Selain itu, dampaknya juga terasa bagi lingkungan dengan berkurangnya polusi udara.

 Penutup

Setiap orang membutuhkan ruang. Ruang untuk dirinya sendiri, ruang untuk bersama orang lain baik itu keluarga, maupun kawan-kawan. Kota kita kian lama makin sempit. Mereka yang memiliki ruang yang luas adalah mereka yang memiliki akses dan aset berlebih. Sementara warga yang memiliki keterbatasan hanya kebagian sisanya. Inilah akibat kebijakan yang tidak prorakyat dan hanya berorientasi pasar atau profit saja.

Seringkali tabrakan-tabrakan kepentingan tak menghasilkan keputusan yang menguntungkan warga kota untuk memiliki ruang. Warga harus putar otak untuk menyiasati ruang yang terbatas. Keempat komunitas olahraga di atas telah membuktikannya. Mereka membuka kemungkinan ruang digunakan untuk lebih dari sekadar olahraga, melainkan juga membangun interaksi antarwarga kota yang memiliki kesamaan ketertarikan. Kemudian mereka dipersatukan dalam sebuah komunitas. Meski yang ada hanya ruang sisa, mereka dapat memanfaatkannya semaksimal mungkin demi kepentingan dan kebaikan bersama.

Acuan:

Ari. 2013. “Jakarta Knife Thrower Indonesia, Komunitas Para Ahli Lempar Pisau”. http://www.jpnn.com/read/2013/05/12/171547/Jakarta-Knife-Thrower-Indonesia,-Komunitas-Para-Ahli-Lempar-Pisau-

Auz. 2012. “Bertarung Catur di Kolong Jembatan”. http://sports.okezone.com/read/2012/03/26/433/599846/bertarung-catur-di-kolong-jembatan

Hidayat, Nurul. 2010. “Kegiatan Car Free Day Dan Upaya Pengurangan Pencemaran Udara: (Studi Kasus di Jalan M.H Thamrin)”. http://socioeducation.blogspot.com/2010/01/kegiatan-car-free-day-dan-upaya_01.html

Prisma. 1978. “Olahraga: untuk Apa”. Jakarta: Repro Internasional.

Septriana, Astrid. 2013. “Lapangan Futsal Penjaringan Jadi Karya Seni di Jakarta Biennale 2013”. http://hot.detik.com/read/2013/11/08/115123/2407323/1059/lapangan-futsal-penjaringan-jadi-karya-seni-di-jakarta-biennale-2013

TROTOARt. 2013. “TROTOARt & Jatiwangi Art Factory Program In JAKARTA BIENNALE 2013”. http://trotoartjakarta.blogspot.com/2013/12/jakarta-biennale-siasat.html

POTONGAN WAWANCARA: IndoRunner, Kombinasi Club dan Komunitas Lempar Pisau