TAMAN KOTA

jalantikus1.jpg

KE TAMAN KITA AKAN BERKUNJUNG

Oleh Annayu Maharani

Cahaya lampu kuning tersamar/ Terduduk tenang / di bangku taman/ setelah lelah nikmati malam/ mata terpejam. “Di Bangku Taman” – Pure Saturday.

Taman adalah ruang publik terbuka yang menawarkan keasrian dan keleluasaan untuk beraktivitas. Berbagai pepohonan dan tumbuhan di dalamnya merepresentasikan alam, sebuah “lanskap buatan”, dan berfungsi sebagai penyeimbang tata kota yang berpola material. Areal terbuka membuat kita bisa melakukan berbagai aktivitas mulai dari berolahraga hingga berpiknik. Seperti itulah konsep ideal dari ruang publik ini.

Sekarang, mari kita berbicara tentang keadaan ibu kota Jakarta. Wajah Jakarta sebagai kota metropolitan mempunyai penampakan ratusan bangunan bertingkat yang terdiri dari perkantoran, apartemen, dan mall. Pembangunan Jakarta cenderung mengarah kepada kepentingan bisnis dan kawasan komersil yang dapat dilihat dari jumlah mall lebih dari 170 buah. Bisa disebut kemudian bahwa mall adalah ruang publik primer kota Jakarta.

Citra satelit tahun 2008 memperlihatkan sebanyak 66,62% dari total lahan Jakarta atau 42.941 ha merupakan lahan terbangun. Petak-petakan antara komposisi bangunan, ruas jalan, perkerasan, dan struktur alami terlihat tumpah tindih. Kita dapat merasakan bahwa tata kota ibukota menjelma layaknya tumpukan kubus-balok yang disuplai listrik, penyejuk ruangan, dan pendukung lainnya. Dampak utamanya adalah emisi karbon dan elektro yang menyebabkan degradasi lingkungan hidup dan pemanasan bumi. Wajar saja jika polusi udara, bencana banjir, dan krisis air bersih merupakan penyakit dari kota ini. Kita sebagai penduduk Jakarta pun rentan terhadap penyakit dan lambat laun mengalami kerapuhan fisik karena tak terbiasa dengan kondisi udara terbuka (open air).

Sebaliknya, ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta hanya berjumlah 9,79% atau 6.309 ha, sangat jauh dari kebijakan Penataan Ruang UU No.26/2007 bahwa kota harus mempunyai RTH minimal 30%. Hal ini memperlihatkan betapa tata kota Jakarta jauh dari prinsip ekologi. Padahal RTH berpotensi besar dalam menyeimbangkan ekosistem karena berperan memperbaiki lingkungan dan menciptakan kota yang layak huni. Lemahnya kebijakan tata kota membuat keberadaan taman kota sebagai RTH tidak menjadi prioritas pengembangan kota Jakarta. Sepertinya, apa yang tertanam dari konsep ideal sebuah taman hanyalah klise. Dan apa yang tertera dari lagu Pure Saturday yang muncul di tahun 1999 itu adalah keromantisan belaka.

***

Pembangunan tata kota dengan fokus terhadap RTH bukan berarti tidak pernah dilakukan Pemda Jakarta. Setidaknya tercatat ada tiga taman besar yang diresmikan, contohnya Taman Menteng di tahun 2006, Taman Cattleya dan Taman Barito di tahun 2009. Target RTH yang diterapkan oleh Pemda Jakarta dalam dekade 2000-2010 adalah sebanyak 13,94% atau 9.554 ha yang dibagi atas hutan kota, taman kota, dan jalur hijau. Kenyataannya, banyak target yang tidak tercapai dan rencana tata kota terbengkalai. Intervensi dari pihak-pihak pemodal atas kepentingannya lebih kuat sehingga mempengaruhi pertumbuhan kawasan hunian, industri, dan bangunan komersial lain yang mengarahkan Jakarta ke pembangunan fisik. Walhasil, Jakarta masih terperangkap dalam masalah ketidakseimbangan ekosistem lingkungan.

Ketimpangan ruang publik menimbulkan reaksi dari masyarakat yang kemudian melahirkan tindak inisiatif beberapa warga. Ketidakpuasan mereka atas pembangunan kota Jakarta menciptakan motivasi tertentu untuk memanfaatkan ruang publik yang telah tersedia namun belum digarap optimal, khususnya pada kasus ruang publik berwujud taman.

Bersamaan dengan diresmikannya tiga taman baru yang kontradiktif dengan pembangunan fisik gila-gilaan di Jakarta, lahir komunitas-komunitas yang berbasis di taman kota. Mereka adalah Komunitas Taman Suropati Chambers, Komunitas Taman Tomang, Komunitas Fixed Gear, dan Komunitas Baca-Baca Di Taman. Dengan menggabungkan penyaluran hobi dan keprihatinan mereka terhadap ruang publik, lambat laun terjadi pembukaan direktori ruang alternatif yang terletak di taman kota.

 Melihat Kembali Taman

RTH menjadi salah satu unsur dari kesatuan penataan ruang dan menjadi infrastruktur hijau. Dalam kebijakan struktur ruang kota tahun 2002 yang lahir dari Earth Summit II di Johannesburg, Afrika Selatan terdapat pendekatan baru yakni mengutamakan prinsip ekologi sebagai indikator sebuah kota layak huni. Hal ini dilatarbelakangi oleh isu lingkungan yang menampilkan perubahan iklim dan pemanasan bumi.

Prinsip ekologi yang terdapat dalam RTH berpotensi mengembalikan vitalitas kota yang dapat menjaga keseimbangan ekosistem mulai saat ini hingga waktu yang akan datang. Keberadaan RTH menjamin konservasi tanah dan air, pengendali pencemaran, dan memperlembut pola materialis dari pembangunan kota. Atmosfer asri dan hijau mampu berperan melepaskan jenuh penduduk kota dari rutinitas sehari-hari.

Pembinaan tata kota Jakarta yang berfokus kepada prinsip ekonomi menyebabkan taman kota Jakarta terabaikan dan tidak terolah maksimal. Total area taman di Jakarta “hanya” 529 ha saja, jumlah yang sangat sedikit dibandingkan luas Jakarta sebesar 65.000 ha. Ketimpangan pembinaan tersebut membuat taman yang sudah tersedia mengalami disfungsi atau penyalahgunaan oleh kalangan tertentu. Mabuk-mabukan, sarang preman, kriminalitas, hingga tempat mesum merupakan uraian dari stigma negatif yang tertanam di masyarakat. Wajar saja jika terjadi kesenjangan antara penduduk dengan daya beli berbeda yang sama-sama mencari ruang rekreasi. Di satu sisi, pembangunan kota Jakarta lebih mengakomodir mereka yang punya daya beli cukup.

“Orang menggunakan taman justru untuk minum atau membuang barbuk curian. Dulu ketika Taman Suropati Chambers latihan, ada gangguan kecil seperti preman yang menghardik, ‘jangan berisik’”, cerita Ages Biola tentang pengalaman pertamanya. “Taman seharusnya digunakan oleh masyarakat kota metropolitan yang kekurangan ruang bermain, ruang alternatif. Taman menjadi pilihan bijak untuk di akhir pekan”.

Berdirinya taman baru seperti Taman Menteng sempat menuai kontroversi karena menggantikan rumah dari klub Persija yang melegenda itu. Taman ini pun kemudian diresmikan pada April 2007 dan menelan biaya sekitar 45 milyar. Fasilitas di dalamnya adalah lapangan futsal, basket, jogging track, dll. Tak lama setelah diresmikan, taman ini cukup berhasil menyedot perhatian warga Jakarta. Di akhir pekan, Taman Menteng penuh dikunjungi untuk beraktivitas. Sering kali dapat kita temukan Taman Menteng yang mempunyai 30 spesies tanaman hias itu dijadikan lokasi foto untuk buku tahunan anak sekolah sampai foto pernikahan.

Komunitas Baca-Baca dan Komunitas Fixed Gear adalah contoh dari mereka yang tertarik atas kehadiran Taman Menteng. Awalnya kedua komunitas tersebut tidak bermula di Taman Menteng.

“Kami berawal di Cikini, di kampus kami sendiri, Institut Kesenian Jakarta. Karena letaknya dekat, kami kemudian pindah ke Taman Menteng yang baru saja diresmikan. Taman ini dibangun seperti taman bermain, karena banyak orang berolahraga di sana. Aksesnya pun lumayan oke untuk nongkrong dan makan”, ujar Saleh Husein dari Komunitas Fixed Gear.

Kisah serupa juga dilontarkan Komunitas Baca-Baca Di Taman. “Kami berkumpul di Bundaran HI dan membaca di sana. Kami pernah didatangi aparat karena dicurigai apa yang kami jajakan, tapi nyatanya ‘kan kami menjajakan buku, bukan benda mencurigakan. Pertemuan keempat baru pindah ke Taman Menteng karena lebih nyaman”, timpal mereka. “Pertimbangan lain, di taman banyak pohon sehingga lebih sehat. Ternyata lebih asik membaca di taman karena bebas polusi dan tidak berisik”.

Jika peresmian Taman Menteng menuai reaksi cepat dari publik, lain halnya dengan Taman Cattleya atau Taman Tomang di Jakarta Barat. Menurut Andi Fusri dari Komunitas Taman Tomang, sosialisasi tentang berdirinya Taman Cattleya kepada masyarakat terasa kurang. Banyak warga yang tidak tahu akan kehadiran taman tersebut. Penggagas Komunitas Taman Tomang ini berpendapat bahwa pembangunan Taman Cattleya hanya berfungsi sebagai penghias kota saja. Dengan memanfaatkan Facebook, ia kemudian mengajak teman-teman pesepeda di Jakarta Barat untuk memanfaatkan Taman Cattleya.

Dimulai dari disfungsi, nyaris terlupakan, dan berujung menjadi wadah inisiatif warga. Taman lambat laun bersisian dengan rutinitas masyarakat Jakarta.

 The ‘Green’ Melting Pot

Taman sebagai ruang terbuka (open space) membuka kemungkinan semua lapisan sosial saling bertemu dan saling berinteraksi. Ia menjadi tempat bagi siapa pun yang datang dan pergi.

Scene sepeda lokal dan di luar sama. Mereka memanfaatkan taman sebagai lokasi pertemuan. Taman adalah fasilitas umum untuk bertemu teman dan bertukar informasi,” ujar Gibran dari Komunitas Fixed Gear. Ia menambahkan bahwa banyak menemui orang di taman. Ketika komunitasnya berkumpul, orang dari Depok atau Bogor sampai datang ke Taman Menteng. “Malah saya pernah mengobrol dengan pesepeda yang ternyata adalah Duta besar Denmark. Ia naik dengan sepeda lipatnya”.

Komunitas Fixed Gear menjadikan Taman Menteng sebagai meeting point untuk riding ke tempat lain. Namun sebagian besar komunitas ini melakukan kegiatannya di taman. Desain Taman Menteng yang melingkar sesuai dengan alur kepadatan pengunjung, karena mereka bisa berkumpul dari tengah hingga ke pinggir taman. “Rabu Rabu”, program rutin tiap Rabu malam diisi dengan kompetisi kecil-kecilan dan atraksi sepeda. Rabu-Rabu juga pernah berfungsi sebagai critical mass di mana semua orang bersepeda dan turun ke jalan.

Selain berolahraga, kegiatan bertipe relaksasi di taman dapat disaksikan melalui Komunitas Baca Baca Di Taman yang punya program membaca dan berdiskusi. “Kami berangkat dari kegelisahan atas aktivitas membaca yang sudah susah, apalagi belum ada yang mengadakan kegiatan seperti itu di ruang publik. Juga, Taman Menteng adalah taman tertutup, tamannya ada di dalam sehingga tidak terlalu bising”, jelas mereka panjang lebar.

‘Mau Pinter, Kenapa Mesti Bayar?’ adalah slogan dari komunitas yang berdiri 1 September 2012 ini. Mereka menyediakan buku gratis yang merupakan buku-buku sumbangan. Jenisnya antara lain buku sejarah, sosok inspiratif, komik, sastra, hingga zine. Sesi diskusi bergulir di antara sesama anggota, yang sebebasnya bisa bergabung kapanpun. Pernah, sekelompok punk muslim datang dan ikut membaca bersama.

Tumbuhnya jejaring juga dialami oleh Taman Suropati Chambers.“Dulu saya sempat dicurigari aparat karena anggota kami ada yang gondrong dan bertato. Tidak jauh sebetulnya dari perawakan saya ini,” kenang Ages sambil tertawa. “Ternyata selama setahun kami dipantau CCTV Kedubes AS yang letaknya tepat di seberang”. Komunitas ini dalam perjalanannya mempunyai anggota berjumlah ratusan dari berbagai kalangan. Mulai dari pemusik profesional, anak-anak, pengamen, hingga bule California dan Jepang. Anggota mereka tidak lain merupakan pengunjung Taman Suropati di hari Minggu yang tergelitik dengan bebunyian lagu-lagu daerah bernuansa kontemporer di sisi taman. Mereka tertarik mencoba instrumen biola dan mulai menekuni secara serius.

Di samping itu, taman merupakan paru-paru kota. Berbagai tanaman yang ditata berkonsep mencerminkan keelokan vegetasi dan infrastuktur hijau. Ages pun menyadari efek positif dari prinsip ekologi ini. “Misalnya ketika main musik. Anak-anak yang berlatih musik di ruangan tertutup selama dua jam penuh cenderung lebih mudah lelah dibandingkan anak-anak yang berlatih di taman. Taman menyuplai gas oksigen yang berpengaruh pada aktivitas fisik. Apalagi, jika taman tersebut punya pepohonan yang rindang…”.

Faktanya, kebutuhan oksigen setiap orang adalah 0,5 kg per hari. Sebatang pohon rata-rata menghasilkan 1,2 kg per hari, sehingga perbandingannya adalah satu pohon untuk dua orang. Kebutuhan oksigen suatu penduduk kota dapat terpenuhi dengan keberadaan taman yang sepatutnya terletak di beberapa titik sebar. Daya produksi oksigen atas taman berkemampuan meredam tingkat polusi di Jakarta.

Dalam prosesnya, kegiatan para komunitas taman secara tidak langsung menciptakan dialog ke berbagai arah dan membangun kekerabatan. Mereka mengobrol dengan pedagang asongan dan kopi keliling yang mangkal di pinggiran taman, menunggu untuk dibeli. Beberapa kali mereka diizinkan beraktivitas hingga larut oleh pengelola taman. Preman dan pengamen yang berkeliaran di Taman Suropati beralih menjadi anggota komunitas Chamber dan mendapat pemberdayaan ke arah yang lebih baik. Keterlibatan dan pembauran sosial yang lahir dari peranan komunitas dengan taman sebagai arenanya membuat masyarakat lebih aktif, kreatif, dan peka terhadap sekitarnya. Fungsi sosial budaya dan ekologi pun terpenuhi.

 Dari Taman Hingga Amerika

Konsistensi Komunitas Taman Suropati Chambers, Komunitas Taman Tomang, Komunitas Fixed Gear, dan Komunitas Baca-Baca Di Taman dalam menyelenggarakan kegiatan mereka mulai menuai hasil. Banyak pengunjung di sekitar taman yang kemudian bergabung menjadi anggota, dengan alasan kesamaan minat maupun ingin mengisi waktunya di taman. Jumlah anggota mereka dapat diakumulasi hingga ratusan. Suatu pencapaian dari komunitas sipil yang berbasis di taman.

Program-program komunitas di taman seakan menjadi varian berbeda karena menggabungkan hobi dan pemanfaatan ruang publik. Pilihan program yang kreatif, edukasi yang ditawarkan, dan kondusifnya taman menjadi alasan bertahannya komunitas semacam ini hingga sekarang.

MIRAS (Mikir KeRAS) adalah program diskusi dari Komunitas Baca-Baca Di Taman yang mengundang pembicara. Mereka pernah mengundang Heri Latief, penyair eksil yang pernah tinggal di Belanda karea praha politik 1965. Latief memberi pelajaran bagaimana membaca puisi dengan benar. Ia pun banyak berbicara tentang sastra eksil, sekaligus membacakan puisimya. Selain MIRAS, komunitas ini punya program lain yang punya nama unik, seperti BIR (BIncang Ringan) dan KUDETA (KUmpul DEngan Teman).

Ages Biola selaku pendiri Taman Suropati Chambers merupakan pemain biola yang sempat berkarir bersama Keroncong Tugu Jakarta. Lewat komunitasnya, ia bermaksud untuk mengkonservasi lagu-lagu nasional dan daerah. Ia merasa lagu-lagu tersebut terancam punah karena generasi saat ini kurang familiar dengan kesenian daerah. Berdiri sejak 7 Mei 2007, Taman Suropati Chambers mengukir banyak prestasi membanggakan. Komunitas ini diundang bermain di Gedung Kesenian Jakarta, Java Jazz, Istana Negara, hingga ke Amerika. “Saya diundang oleh pihak Kedubes AS setelah mereka memonitoring saya lewat CCTV itu,” jelasnya tertawa.

***

Empat komunitas di atas telah berhasil memperlihatkan peran serta masyarakat terhadap ketimpangan pembinaan ruang publik dari stakeholders yang belum optimal. Lewat peranan mereka, taman dapat diolah menjadi ruang publik yang potensional. Variasi program komunitas mampu mengakomodir kebutuhan publik dalam penyaluran kemampuan, energi, pemberdayaan, dan membangun apresiasi. Infratruktur hijau dari taman juga membantu menaikkan kesadaran untuk mengubah gaya hidup demi menjaga kualitas lingkungan.

Area taman Jakarta saat ini berjumlah 529 ha. Penjabaran di atas hanyalah beberapa contoh dari taman yang telah mengalami partisipasi masyarakat, sehingga nilai kebermaknaannya meningkat. Taman mulai bergeser tidak hanya menjadi “subdirektori” dari jenis ruang publik lain yang mendominasi. Diharapkan terjadi penularan semangat pembenahan ruang publik hingga kesatuan tata kota beserta perangkat lainnya semakin selaras dan berkesinambungan.

Kita sedang menyoal 7,55 juta penduduk dalam sebuah kota. Banyak cara untuk menciptakan eskapisme di Jakarta yang padat.

Jakarta, 2014

PUSTAKA: Joga, Nirwono dan Iwan Ismau. RTH 30%! Resolusi (Kota Hijau). 2011. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

POTONGAN WAWANCARA: Komunitas Baca-Baca di Taman, Komunitas Fix Gear Taman, Komunitas Taman Suropati Chambers, Komunitas Pecinta Taman Tomang