FAUNA

jalantikus1.jpg

MENYATWA KITA TEGUH, MENGHAMA KOTA RUNTUH

oleh Anwar Jimpe Rachman

SIKLUS HIDUP SATWA di Jakarta nyaris identik dengan beberapa tempat saja: saluran air, tempat sampah, jalan-jalan, pagar, dan pasar. Gerombolan tikus merayap di got-got, kawanan kucing mencari makan di tempat sampah, anjing berkeliaran di jalan atau menggonggong di pagar, dan, malangnya, banyak di antara mereka terkurung di kandang sebagai komoditas berharga selangit.

Jakarta jelas seperti bukan habitat dan tempat yang ramah bagi satwa lantaran padatnya penduduk (sekisar 12 juta jiwa[1]) ditambah ruang terbuka hijau (RTH) Jakarta cuma 9 persen dari total luasannya.[2] Padahal data dari lima komunitas pecinta satwa—Garda Satwa Indonesia, Jakarta Snakers Community, Jakarta Birder, Jaringan Musang Lover dan Independent Musang Lover—memaparkan bahwa kota ini merupakan kawasan sekaligus habitat beragam jenis fauna dari yang terbang hingga satwa melata.

Tapi nyatanya Survei ProFauna Indonesia pada tahun 2012 di delapan pasar burung di Jawa dan Bali menunjukkan bahwa dua dari tiga pasar Jawa-Bali yang paling banyak menjual satwa langka yang dilindungi justru ada di Jakarta (Pasar Pramuka dan Pasar Jatinegara).[3]

Selain sebagai komoditas, manusia menjadikan hewan sebagai “mesin uang”. Anto, salah seorang pegiat Garda Satwa Indonesia (GSI), menceritakan pengalamannya menyelamatkan seekor indukan kucing ras yang keadaannya sangat memprihatinkan.

“Normalnya beranak 10 kali setahun, mereka dipaksa beranak sampai 40 kali. Ada yang pakai obat perangsang,” ungkap Anto.

Karena keseringan beranak, efeknya menggerogoti fisik indukan sebab gizi-gizi dalam tubuh diambil untuk asupan anaknya. Wajar, kata Anto, kalau ada di antaranya buta karena matanya copot, gigi ompong kekurangan kalsium, bulu rontok, dan anak yang dilahirkan tidak sehat. Itu semua dipicu obat.

“Jadi anjing dan kucing yang ada di dalam etalase petshop itu kelihatannya cantik dan bersih dan bagus, tapi tidak lihat induknya kayak bagaimana,” kata Anto, memperingatkan.

GSI, komunitas yang dibentuk Anto bersama orang-orang dari berbagai kalangan pada 2012, merupakan kumpulan individu yang peduli satwa. Isu utamanya kesehatan hewan, khususnya anjing dan kucing. GSI memiliki visi mengubah budaya perlakuan manusia pada anjing dan kucing. Di waktu berkala mereka melakukan sterilisasi anjing dan kucing.

Sterilisasi tidak merujuk pembersihkan dan merazia untuk memusnahkan. Program itu semata mengangkat alat reproduksinya agar populasinya di kota bisa terkendali. Bagi GSI, itu demi mengurangi anak kucing yang lahir sia-sia. Mereka dipandang hama dan sering mendapat perlakuan buruk, seperti disiram air atau minyak panas, ditendang orang di warung-warung, sampai kelindas mobil.

Dalam catatan, pada tahun 2012, kucing dan anjing liar di Jakarta berkisar 200 ribu ekor. Kurun waktu itu pula, kata Anto, banyak terjadi penembakan anjing liar atau razia kucing—tanpa pendampingan organisasi satwa.

“Apa yang kami lakukan berhubungan dengan hak. Kucing berhak hidup lebih baik. Sterilisasi itu banyak manfaatnya, seperti kucing lebih sehat karena mereka tidak mikirin anak lagi. Mereka hidup untuk makan tok!” seru Anto.

Kehidupan kucing dan anjing di kota atau di tempat lain sebenarnya diatur dalam Undang-Undang Kesejahteraan Satwa, Pasal 66 yang menjamin lima hak satwa, yakni berhak hidup bebas sesuai habitat, bebas haus, stres, kelaparan, dan bebas dari intimidasi dan kekerasan serta penganiayaan.

“Ada yang bilang saya melanggar hak untuk berbiak. Saya Islam. Al-Quran itu tidak saklek. Kita ‘kan oleh Tuhan disuruh berpikir. Kalau misalnya jumlah kucing itu sudah banyak dan sudah menjadi hama bagi manusia, apakah salah kalau kita mengurangi populasi kucing? Toh kita mengurangi bukan dengan membunuh. Dengan cara kami mengubah budaya manusia terhadap satwanya,” papar Anto yang juga berprofesi sebagai pengacara ini.

Karena itulah Anto mengharapkan bahwa masyarakat jangan membeli anjing dan kucing. Ada baiknya mengadopsi saja.

KOMUNITAS SERUPA GSI banyak tumbuh di Jakarta. Mereka bertindak dan beroperasi secara sukarela melayani satwa dan sesama manusia. Mereka semata kumpulan pecinta fauna yang menangkap dan melepas-liar binatang yang mereka dapatkan. Pemeliharaan dan penyelamatan hewan yang mereka lakukan menjadi hobi penting bagi kehidupan kota, terutama demi menyeimbangkan ekosistem, sekaligus membantu mereka yang sedang kesulitan berhadapan dengan satwa-satwa tersebut.

Perihal semacam itu yang menjadi bagian hidup para anggota Jakarta Snakers Community (JSC), yang saban waktu berkumpul di Lubang Buaya, tepat di depan Kompleks Karyawan Taman Mini, Jakarta Timur. Separuh dari tiga puluhan anggotanya yang aktif justru awalnya takut ular. Karena interaksi, akhirnya pikiran tentang ular sebagai binatang yang sangat berbahaya pun hilang.

“Dari takut jadi penasaran, kemudian timbul rasa suka karena tidak sama yang dipikirkan selama ini tentang ular,” ujar Mamang. “Kalau di alam, ular memang berbahaya. Tapi di habitatnya ular tidak menyerang. Mereka hanya menyerang kalau terpojok. Mereka ‘kan juga tidak keluar siang. Kalau pun mereka keluar siang, berarti habitat mereka terganggu,” tambahnya.

Ular merupakan salah satu jenis reptil yang paling sukses berkembang di dunia. Di seluruh habitat, mulai puncak gunung, hamparan daratan, sampai pesisir, satwa ini mudah ditemukan. Satwa ini berkarakter hidup nokturnal (hanya keluar malam) karena buruannya, tikus, hanya keluar berkeliaran mencari makan di waktu itu.

Mamang mengaku, JSC belum pernah memetakan di daerah mana saja kawasan di Jakarta yang padat dihuni ular. Semata-mata berdasarkan pengalaman komunitasnya, ular banyak menghuni daerah pinggir Jakarta, yang masih banyak sawah dan aliran sungai yang deras. Karenanya ular masuk rumah bisa sering terjadi. Pembangunan di pinggiran Jakarta, terutama Jakarta Timur, sangat cepat. Kebanyakan itu terjadi di daerah-derah resapan air yang diratakan, digali, dan dibuat perumahan.

“Akhirnya ular di bawah tanah berusaha melarikan diri dan masuk rumah. Karena habitat mereka diobrak-abrik. Makanya waktu banjir Januari-Februari 2014 lalu ular besar keluar dari sarangnya karena terendam banjir. Mereka tidak sedang berburu tapi menyelamatkan diri. Dan hampir tiap bulan kami ditawarkan dan diantarkan ular hasil tangkapan ukuran 3-4 meter. Mereka berusaha menjual mahal, tapi kami tidak terima. Akhirnya kami sarankan untuk menaruh ular itu di Taman Reptil di TMII (Taman Mini Indonesian Indah),” ungkap Mamang.

Dua pekan sebelumnya, Mamang dan kawan-kawan mendapat hibah ular bekas peliharaan seseorang dari Cengkareng. Ularnya sudah terlalu besar. JSC lantas mencari anggotanya yang punya kandang luas dan nyaman, serta, terutama, sanggup memberi makan. Ular besar otomatis pakannya banyak.

Ular diberi makan dua sampai empat ekor ayam sekali seminggu. Mamang mengaku kalau perawatan memang berat. Tapi karena tujuannya adalah pelestarian, Mamang menyebut hal itu sepadan.

Di dalam rantai makanan, ada tikus di bawah ular. Awam diketahui kalau tikus adalah binatang paling jamak ditemui di Jakarta dan kota-kota pada umumnya. Dalam soal keseimbangan ekosistem, membunuh ular sebenarnya diandaikan sebagai memelihara seribu ekor tikus dalam setahun. “Perkembangan tikus sangat cepat. Satu kali beranak 10-15 ekor dan kebanyakan betina,” ungkap Mamang.

Salah satu jenis ular yang berkemampuan besar memakan tikus adalah Sanca Batik atau biasa disebut Sanca Kembang. Sanca Kembang satu meter bisa menghabiskan 3-4 ekor tikus ukuran jumbo yang biasa kita lihat di jalan. Kemampuan untuk menjaga ekosistemnya dan menghabiskan hama tikus lebih banyak. Dua kawasan dari beberapa tempat di Jakarta yang jadi sarang ular adalah gorong-gorong TMII dan perbatasan Jakarta-Bekasi, tepatnya di aliran Kali Sunter. Di Jakarta Utara pun banyak ular lantaran dekat dengan laut. Tetapi Jakarta Timur disebut terbesar karena daerah resapan dan rawa-rawa.

Jenis ular ini bertahan karena menghindari manusia. Ketika ada getaran kaki, kata Mamang, mereka pasti sembunyi atau melarikan diri.

Selain sanca, di Jakarta pun masih bisa didapati ular kobra. Mamang sendiri sesekali mendapati anakannya keluar, terutama di daerah resapan saat banjir, berbareng dengan Sanca Batik. Namun karakter sanca dan kobra berbeda. Kobra bertahan tidak menyerang bila bertemu manusia. Orang yang harus mundur, kata Mamang, karena mereka tahu mereka mematikan.

“Langkah pertama bagi yang kena gigit ular berbisa, sebelum ke rumah sakit, berusaha dulu ditangkap atau dibunuh dulu untuk identifikasi. Karena kalau salah identifikasi, salah kasih anti bisa—yang berarti dobel bisanya,” ujar Mamang menyarankan.

Kegiatan lain komunitas JSC adalah menernakkan Sanca Batik. Ular tidak berbisa ini banyak dibunuh untuk diambil kulitnya dan diekspor. “Kami coba menernakkan dan mengembalikan beberapa anakannya kembali ke alam lagi,” kata Mamang.

Makanya, setiap banjir, JSC selalu bersiaga dan bergadang di basecamp-nya. Dari sana mereka mendapat informasi kalau ada ular di jalan, yang mencoba melintas dan tertabrak. Biasanya JSC datang menolong, menangkap tangan (meski bila ada panggilan PSC selalu bawa alat lengkap), dan merawat ular yang tertabrak itu, yang setelah sembuh dilepaskan di tempat semula mereka ditabrak.

“Di tempat mereka tertabrak biasanya rawa-rawa. Di situ juga kami lepaskan lagi kalau sudah sembuh. Kami tidak datang ke kebun cari. Itu sama saja dengan berburu,” jelas Mamang, tersenyum.

Secara berkala pula JSC melakukan sosialisasi dan berbagi pengetahuan tentang ular di sekolah-sekolah untuk memperkenalkan bahwa tidak semua ular itu berbahaya. Cara mereka biasanya mengenalkan ular langsung pada peserta, sebelum menjelaskan seluk-beluk ular.

GAMBARAN KETIDAKRAMAHAN lingkungan karena perkembangan perubahan dan perkembangan lanskap Jakarta dapat pula diperoleh dari komunitas seperti Jakarta Birder (JB), kelompok warga yang mengamati satwa burung. Komunitas yang dibentuk pada 2008 lalu itu berniat semata menikmati alam di tengah sumpeknya Jakarta sembari mendata jenis burung yang mereka temui sepanjang hari itu.

Burung merupakan satwa yang lebih mudah ditemui di sekitar kita ketimbang mamalia dan reptil, mulai berbulu berwarna satu macam sampai beraneka warna seperti pelangi. Dari pengamatan mereka kemudian memperoleh temuan terkait bagaimana burung beradaptasi terhadap perkembangan kehidupan satwa jenis ini.

Salah seorang pendiri JB, Boas Emmanuel, memaparkan, hasil pengamatan mereka sejak 2008 lalu mereka menyaksikan sendiri bagaimana Burung Kacamata yang biasanya bersarang menggunakan daun kering mereka melihat ada yang menyusun sarang menggunakan kertas tisu dan benang layangan, Tekukur biasanya makan biji-bijian malah menelan mi instan (di Ragunan), atau Burung Blekok atau Kuntul yang berburu ikan di sungai mengubah pola mencari makan di pinggiran sungai kotor dengan mengambil bangkai ikan atau tetelan sapi yang berasal dari pasar.

“Hasil pengamatan itu biasanya kami share ke pengamat burung bahwa adaptasi burung di Jakarta unik meski terlalu berbahaya bagi mereka,” terang Boas.

Ruang untuk manusia kini hanya menyisakan sekisar sembilan persen saja ruang terbuka hijau. Perilaku burung pun berubah seiring menghilangnya habitat asli mereka. Boas menyebut, ada dua tempat ia bersama rekan-rekannya untuk melihat burung, yakni di Kebun Binatang Ragunan dan Suaka Marga Satwa Muara Angke.

“Cuma untuk masuk (Muara Angke) perlu surat izin, yang didapat di Kantor Kehutanan di Salemba. Perlu materai. Biasanya di sana itu ribet karena nunggu tandatangan kepala balai yang kadang tidak ada di tempat,” papar Boas.

Perkembangan Jakarta demikian masif. Boas menyarankan sebaiknya RTH dibangun di tiap bagian Jakarta untuk menyaring udara kota yang sudah terpapar polusi udara dan suara. Kalau pun belum bisa, RTH dan hutan kota dapat dibangun di bagian utara Jakarta, seperti Pantai Ancol dan kawasan Kelapa Gading.

Zona utara Jakarta merupakan kawasan habitat sekaligus tempat persinggahan (migrasi) berbagai jenis burung yang hidup di dalam negeri maupun luar Indonesia. Boas menyebut beberapa jenis di antaranya Bubut Jawa yang hidup hanya di kawasan mangrove pesisir Jakarta. Tapi jenis ini mulai berkurang karena bakau yang tersebar di Jakarta sudah menipis lantaran berubah menjadi perumahan dan sejenisnya. Ada pula Kerek Jawa, jenis burung pantai yang berbiak di Jakarta dan satu tempat terbaiknya di dekat Ancol. Jenis ini mengalami hal serupa, habitatnya mulai bersalin rupa menjadi perumahan.

Selain itu, ada pula burung bermigrasi dan singgah di Muara Angke, Jakarta, yang disebut Boas, “sedang liburan musim dingin”, yakni Kangkok Besar, sejenis burung parasit. Parasit di sini berdasarkan sebaran catatan di dunia maya tentang perilaku jenis ini yang suka merebut sarang burung lain.

Populasi burung di Jakarta kata Boas sudah menurun drastis. “Saya pernah baca buku catatan di masa Belanda tentang burung di Batavia berjumlah sekitar 200 jenis. Sekarang, hampir setengahnya hilang. Dalam arti sudah tidak di Jakarta lagi. Mereka ke Bogor atau daerah pegunungan atau ke tempat lain,” kata Boas.

Menurut Boas, burung sebenarnya relatif mudah beradaptasi di lingkungan manusia. Hanya saja banyak yang jahil, semisal burungnya lagi di sarang dan ditangkap. “Secara tidak langsung, itu membunuh satu generasi kalau satu anak!”

Selain itu, mengganggu burung sama saja dengan mengganggu ekosistem. Burung Kutilang misalnya makan serangga dan buah-buahan. Selain bunyi-bunyian, mereka burung pun mengontrol populasi serangga dan penyebaran benih. Sedang burung hantu makan tikus di persawahan. Kalau ada yang menangkap burung hantu, maka populasi tikus akan meledak. “Pasti petani akan kerepotan karena tidak ada yang memangsa tikus. Biarkan burung hantu mengerjakan tugasnya di alam,” ujar Boas.

Komunitas JB pun sering mendatangi Pasar Burung Jatinegara. Boas mengatakan, setiap ia dan rekan-rekannya datang ke sana, selalu saja mendapati berbagai jenis burung langka yang dijual.

“Cuma ‘kan ke sininya (sekarang) penjualnya maju juga. Tidak mesti (burungnya) ditampilkan. JB hanya bisa memonitor dan melaporkan ke Balai Kehutanan. Ya tapi itulah Indonesia, hukum bisa dibeli. Kita kadang capek juga,” katanya, lirih.

DUNIA SATWA tidak cuma tentang beragam jenis binatang yang langka dan dilindungi. Ini juga perihal tentang fauna-fauna yang dekat dengan kehidupan manusia. Di Jakarta dan sekitarnya, beberapa kelompok warga mendomestikasi musang, mamalia karnivora nokturnal liar yang selama ini masih dianggap sebagai hama lantaran memangsa unggas-unggas peliharaan manusia.

Jaringan Musang Lover (Jamal) dan Independent Musang Lover (IML) merupakan dua contoh komunitas yang dibentuk oleh orang-orang yang memiliki hobi memelihara musang. Mereka menyebut musang seperti kucing dan anjing lantaran bisa dijadikan hewan penjaga rumah—bisa menggonggong dan berisik bila bertemu orang yang tak dikenal. Tapi karakternya “lebih seru” dan eksotik dibanding keduanya.

Nurdin dan Eka, anggota JAMAL mengungkapkan, memelihara musang sama sekali tidak repot. Keduanya biasa memberi pisang atau buah-buahan lain untuk peliharaannya.

“Kalau pun dikasih daging, usahakan daging yang sudah direbus. kalau mentah karakter liarnya bakal muncul lagi. Cara lain untuk hilangkan karakter galaknya dengan sering memandikannya. Kotorannya juga tidak bau karena makannya buah,” terang Eka.

“Dibawa nongkrong pun oke banget,” tambah Nurdin.

Para pecinta musang se-Jabodetabek kerap menggelar kegiatan seperti gathering, bakti sosial, sampai kontes musang—yang menilai karakter, kebersihan, sampai kelengkapan organ tubuh (terutama gigi).

JAMAL dan IML menyebut, beragam jenis musang sebenarnya masih hidup di kawasan Jakarta, terutama Musang Pandan. Musang jenis ini banyak jenis, tapi dapat dikenali dengan strip hitam dan putih di punggungnya. Di Sumatera yang terkenal adalah Musang Bulan atau dikenal dengan nama khasnya: Luwak. Di Jawa dan Sumatera menjadi habitat Musang Akar. Hanya saja, satwa yang bersarang di rumpun bambu ini jarang bisa ditemui hanya dikarenakan mereka hidup di malam hari dan, yang terpenting, habitatnya berkurang karena ekspansi modal berbentuk perumahan dan mal.

Menurut seorang pegiat IML, Dwi, tentu saja legal memelihara musang, kecuali beberapa jenis musang yang terancam punah seperti Musang Air (Cynogale bennetti). Sebagai catatan, jenis ini merupakan salah satu satwa langka yang didapati dalam Survei ProFauna Indonesia 2012 lalu.

KELIMA KOMUNITAS INI adalah kumpulan manusia yang hidup di perkotaan dengan menggeluti aneka profesi, dari pengacara sampai peracik kopi profesional—dunia kerja yang tidak berhubungan langsung dengan konservasi alam. Namun berdasarkan pengalaman mereka, mereka mengirimi kita peringatan, bahwa ancaman terhadap satwa jelas sebentuk ancaman pula bagi kehidupan manusia di perkotaan dan perdesaan. Satwa yang terbang hingga yang melata pelan-pelan makin tercerabut dari siklus hidup manusia. Segalanya kita pandang sebagai hama semata.[]

[1]http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1771282/jumlah-penduduk-jakarta-dekati-ambang-batas#.U6hzIY2Sx94, diakses pada 23 Juni 2014.

[2]http://jalan-tikus.org/wp/?page_id=56, diakses pada 23 Juni 2014.

[3]http://alamendah.org/2012/03/28/perdagangan-satwa-dilindungi-di-jawa-dan-bali/, diakses pada 15 Juni 2014.

POTONGAN WAWANCARA: Komunitas Garda Satwa, Jakarta Snakers Community, Jakarta Birder, Djaringan Musang Lover/Independent Musang Lovers