KOTA TUA

jalantikus1.jpg

Kota Tua (Menjadi) Muda

oleh Annayu Maharani

Dan  kita  berjanji  untuk berwisata
Dengan  kereta  menuju  ke  stasiun  kota
Berjalan  melewati  gedung-gedung  tua
Berdua  oh  senangnya

The Adams – Berwisata

Disebutkan bahwa 790.141 orang per tahun, atau dengan rata-rata 2.164 per harinya, orang berkunjung ke Kota Tua Jakarta. Mereka bisa saja turis lokal maupun mancanegara yang ingin merasakan “wajah” Jakarta yang lain, yaitu ibukota dengan peninggalan arsitektur kolonialnya. Dijangkau dengan 10 menit berjalan kaki dari halte Transjakarta maupun Stasiun Kota, tampak gedung-gedung dan arsitektur bernilai sejarah tinggi yang sudah direvitalisasi sejak zaman gubernur Ali Sadikin.

Cagar budaya Kota Tua merupakan salah satu zona dari Kawasan Kota Tua yang mempunyai luas zona 87 Ha. Di dalamnya terdapat Museum Sejarah Jakarta (yang lebih akrab disebut Museum Fatahillah), Museum Wayang, Gedung Pos Jakarta, Cafe Batavia, dan gedung-gedung tua. Dulunya, kawasan ini merupakan pusat bisnis dan kegiatan pemerintah kota Batavia di sepanjang Sungai Kali Besar. Landmark terkenalnya, Museum Fatahillah, telah dibangun sejak 1620 di bawah perintah Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen dan awalnya berfungsi sebagai balai kota.

Bagaimana pendapatmu tentang Kota Tua? Mungkin sebagian besar dari kita akan menjawabnya dengan kacamata turis sebagai tempat rekreasi. Namun, tidak bagi mereka yang setiap hari bernaung di sana. Dengan membuka lapak dagangan, menyelenggarakan acara musik, sampai melumuri tubuhnya dengan cat; merekalah yang memberi warna Kota Tua.

***

Idris bukanlah siapa-siapa. Ia hanya seorang laki-laki asal Bogor yang ingin mencari nafkah ke Jakarta. Suatu hari di tahun 2012, ia menginjakkan diri ke Kota Tua. Timbullah niatnya untuk berdagang di seputaran Kota Tua setelah melihat jajaran pedagang yang ada di sekitar kawasan wisata. Namun, niatnya harus urung setelah mendapat informasi bahwa sudah ada penetapan jenis-jenis dagangan di sana.

Berdiam di pinggiran, Idris mengamati para pengunjung Kota Tua yang suka berfoto-foto dengan latar gedung-gedung tua. Sontak, ia melihat peluang dari kecenderungan perilaku para pengunjung tersebut. Ia ingin menjadi objek dalam foto-foto, yang diakali dengan menjadi manusia patung.

Tak hanya Idris yang sibuk punya rencana. Beranjak dari alun-alun di depan Museum Fatahillah, gedung-gedung tua di sekitarnya tidak kalah ramai. Deretan gedung yang saling menempel satu sama lain hanya dipisahkan oleh jalanan dan kanal yang membentuk petak-petak grid. Egi dan Cahya misalnya, sering nongkrong di bangunan lama‒yang dulunya adalah kawasan kantor niaga‒di samping Museum Fatahillah. Trotoar yang cukup besar membuat mereka betah mengobrol tentang apapun, namun ternyata tidak jauh dari kesenian. Mulai dari mengobrol, tumbuh tekad untuk melakukan hal kecil yang bersinggungan dengan kawasan Kota Tua.

Sementara Jaya punya cerita yang lebih unik. Ketika hari mulai larut dan pengunjung Kota Tua sudah mulai surut, Jaya dan teman-temannya tetap betah nongkrong di pelataran gedung-gedung tua. Mereka bahkan tidur di depan museum atau di meriam yang ada di alun-alun. Stigma negatif pun menghampiri atas perilaku dan perawakan rambut gimbal mereka. Dibawa ‘pulang’ oleh Satpol PP adalah hal yang biasa, sampai akhirnya timbul kejeraan dan ingin membuktikan sesuatu. Menjadi tontonan pengunjung setelah mereka akustikan adalah suatu bentuk dorongan untuk kemudian mendirikan komunitas.

Dari merekalah, terbentuk komunitas yang mengisi keseharian aktivitas Cagar Budaya Kota Tua. Idris adalah pendiri dari Komunitas Manusia Batu yang bisa ditemukan di alun-alun, begitu juga dengan Jaya dan Komunitas Raggae Kota Tua (KRKT) yang mulai berkumpul di sore harinya. Sementara Egi dengan Lorong Rupa dan Cahya dengan Komunitas Tattoo Kota Tua (Kotattooea) berkarya di sepanjang koridor jalan samping Museum Fatahillah.

Tak Ada Museum, Lainnya Pun Jadi

“Sekarang bisa dibilang kalau mau ke Kota Tua, mau bikin tato dulu, baru ke museum”, ungkap Cahya. Kotattooea, yang telah berdiri sejak 2011 menyediakan jasa tato temporer maupun permanen. Tarifnya pun dibagi atas media gambar dan tingkat kesulitan. “Tato temporer lebih banyak dipesan. Tarifnya mulai dari Rp 30.000 per gambar, tergantung besar dan kesulitan”.

Meski letaknya tidak di dalam studio, Cahya menjamin alat-alat tato di Kotattooea higienis. Mereka menerapkan peraturan seperti membuka segel jarum di depan pelanggan. “Hal tersebut dilakukan sebagai pembuktian tato di sini aman. Kita selalu disiplin untuk menjaga kebersihan demi keselamatan pelanggan maupun seniman tatonya sendiri. Untuk seniman, wajib menggunakan sarung tangan dan penutup hidung karena aroma darah bisa menyebabkan kanker tenggorokan”, lanjutnya.

Ragam aktivitas di atas adalah salah satu contoh dampak dari kemunculan komunitas-komunitas yang berdiam di Kota Tua. Selain menuju museum-museum sebagai agenda utama, berjalan-jalan mengitari kawasan Kota Tua wajib dicoba. Melihat-lihat karya dari Lorong Rupa, misalnya.

Komunitas yang jumlah anggotanya telah mencapai 30 seniman ini memanfaatkan benda-benda daur ulang seperti tempurung kelapa, bambu, dan limbah kayu. Selain kerajinan tangan, seniman Lorong Rupa juga membuat lukisan-lukisan bertema naturalis. “Kita memajangnya di tempat umum, memanfaatkan jalan yang menjadi arus jalan pengunjung”, ungkap Egi. Tak jarang, pengunjung membeli gelang dan kalung hasil karya Lorong Rupa sebagai oleh-oleh.

Sementara alun-alun, yang menjadi ruang terbuka di tengah-tengah kawasan Cagar Budaya Kota Tua, selalu ramai pengunjung yang lalu-lalang. Beberapa dari mereka mungkin sibuk dengan kamera di tangannya demi mendapatkan sudut terbaik Museum Fatahillah yang bergaya Renaissance. Pengunjung juga bisa mendatangi meriam maupun patung Bung Tomo untuk berfoto.

Patung Bung Tomo?

Alih-alih patung asli, adalah Idris yang mendandani dirinya dan berlagak seperti patung. Ia melumuri tubuhnya dengan cat dan mampu berdiam diri selama berjam-jam. Konsep menjadi manusia patung ia temukan di internet, di mana di luar negeri atraksi semacam ini sudah banyak ditemukan di tempat-tempat wisata.

“Saya ingat pertama kali berubah menjadi manusia batu. Saya hanya pakai kaos, celana pendek, topi, kacamata, dengan tubuh yang dicat abu-abu”, kenangnya. Aksi ‘berdandan’ seperti itu menimbulkan reaksi bermacam-macam. Idris sempat dilarang istrinya karena ia menganggap hal tersebut cukup ekstrem. Sedangkan yang lain mengecapnya orang stress baru. “Justru pedagang di Kota Tua merasa ada sesuatu yang unik. Mereka membantu saya dengan ikut berfoto sehingga menarik pengunjung untuk ikut berfoto juga”, tambahnya.

Selain figur pahlawan, figur lain yang diadaptasi oleh Komunitas Manusia Batu adalah tentara, petani, kompeni, noni Belanda, bahkan vampir Cina. Ternyata, jejak Idris menarik hati para pedagang sekeliling. Mereka pun meninggalkan profesi berdagangnya. Ketika itu telah ada 10 orang manusia batu, dan akhirnya mereka sepakat untuk membentuk komunitas pada April 2013.

Menjelang sore hari setelah Museum Wayang maupun Museum Fatahillah tutup pukul 15.00 WIB, para anggota KRKT justru mulai berdatangan. Dari yang awalnya hanya nyanyi-nyanyi dengan satu gitar dan satu jimbe, komunitas yang telah mempunyai lima homeband ini rutin menggarap pertunjukkan raggae setiap Kamis, Sabtu, dan Minggu malam yang bisa selesai hingga dini hari. Konsepnya pun digarap serius, seperti open jammin’ session dengan penonton dan berkolaborasi dengan band raggae terkenal. Nampaknya kawasan ‘tua’ ini tidak pernah tidur.

Layaknya Warga Asli, Merasa Memiliki

Komunitas menjadi wadah berkumpulnya potensi dan minat orang-orang yang sama. Di dalam komunitas, potensi masing-masing individu terberdayakan sehingga ide-ide kreatif seringkali bermunculan. Aktivitas para komunitas di Kota Tua kemudian memberikan kontribusi yang baik bagi habitusnya.

Selain menyelenggarakan pentas musik raggae, KRKT juga mengajarkan jimbe ke anak-anak sekitar dan memberikan informasi tentang musik asal Jamaica ini. Begitu pula dengan Lorong Rupa yang membuka kelas cukil dan lukis secara gratis. Tak jarang, mereka mengunjungi basis tempatmasing-masing dan saling ajar-mengajari.

Sudah beberapa kali terjadi kolaborasi antar komunitas yang tertuang dalam acaraamal.Mereka berbagi tugas: KRKT menyiapkan sound dan tata panggung lain, Lorong Rupa menggelar pameran, dan Kotattooea menyediakan jasa tato.

“Sekitar tujuh tahun lalu Kota Tua bisa dibilang rawan, karena sering ada banci berbelati, perampokan, dan penipuan. Sekarang keadaannya berbeda. Kota Tua lebih hidup karena adanya komunitas-komunitas yang ramai dari pagi hingga kembali pagi. Kita long shift”, ujar Cahya sambil tertawa.

Keluhan dari komunitas tentang Kota Tua adalah minimnya tempat sampah. Inisiatif pun mengalir dari Komunitas Manusia Batu yang mengalokasikan iuran wajib mingguannya untuk membeli sapu, pengki, dan tempat sampah. “Kita punya jadwal membersihkan area Fatahillah pada Sabtu dan Minggu jam 12.30-13.00”, cerita Idris. “Bahkan adegan kita bersih-bersih dirasa lucu oleh penonton. Patung-patung kok menyapu jalan”.

Pemerintah kota setempat bahkan pernah berterimakasih tentang inisiatif komunitas yang memperdulikan kebersihan. Hubungan di antara keduanya pun terjalin dengan baik karena kehadiran mereka membantu menambah daya tarik pariwisata.

Saking terikat dengan Kota Tua, Idris pernah melakukan hal yang cukup nekad. Pada 2013 Jakarta kembali dilanda bencana banjir. Meski keadaan di luar tidak memungkinkan untuk bermobilisasi, Idris tetap menerobos hujan dan banjir demi mencapai Kota Tua. Tiba di sana, kawasan tersebut tergenang sampai sebetis dan tidak ada orang. “Saya selalu rindu melihat meriam…sampai tidak bisa tidur”, akunya.

Memaknai Sejarah

Setelah masalah kerawanan teratasi dengan kehadiran komunitas-komunitas, Kota Tua masih memerlukan perhatian lebih dalam hal perawatan. Jika diperhatikan secara seksama, banyak sekali gedung-gedung tua yang rusak, lapuk, dan kumuh. Menanggapi hal ini, program revitalisasi Kota Tua digalakkan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (2012-2014).

Program revitalisasinya memuat kerjasama antara PT Pembangunan Kota Tua Jakarta, Pemerintah DKI Jakarta, dan konsorsium swasta Jakarta Endowment for Arts and Heritage (Jeforah). Jeforah menjadi konsorsium swasta yang ingin menarik investasi dan mengembangkan sumber daya untuk pengembangan kawasan ini. Dana abadi yang ingin digalang diharapkan mencapai Rp 100 M.

Langkah revitalisasi yang dikomandoi oleh analisis keuangan Lin Che Wei dan CEO PT Jababeka SD Darmono ini cukup agresif. Salah satu contohnya adalah mengalihfungsikan lantai dua Gedung Pos Jakarta menjadi galeri seni kontemporer bernama Galleria Fatahillah. Galeri tersebut mengadakan pameran yang diisi oleh 46 perupa terkenal seperti Made Wianta, Heri Dono, dan Krisna Mukti pada Maret lalu. Konsep revitalisasi yang ditawarkan adalah menjadi ruang publik yang memadukan kultur seni dan gaya hidup.

“Sekarang, pengunjung bisa leluasa karena lebih rapi dan tertib. Ada klaster-klaster untuk pedagang. Daerahnya aman karena ada polisi pariwisata dan petugas pamong praja,” ungkap Idris. Sedangkan Jaya dari KRKT mengusulkan adanya penanaman pohon di Kota Tua.

Ketika ditanya soal keberlangsungan cagar budaya ini, semua komunitas serempak menjawab pentingnya pelestarian karena nilai kandungan sejarahnya yang tinggi. Dalam rangka mencocokkan tema sejarah, Manusia Batu punya kebijakan memilih figur-figur patung sejarah seperti tentara dan kompeni. Sedangkan KRKT punya ritual menarik. “Kita putar lagu-lagu nasional, biar kita selalu ingat bahwa Kota Tua adalah tempat bersejarah. Malah orang sekitar sudah hapal jika lagu itu diputar, tanda bahwa pertunjukkan akan dimulai”, cerita Jaya.

***

Selain pada perkembangan revitalisasi fisik yang masih terus berproses, Kota Tua sendiri sebenarnya lebih dahulu mengalami revitalisasi spirit dengan kehadiran Komunitas Manusia Batu, Komunitas Raggae Kota Tua, Lorong Rupa, dan Kotattooea. Selalu ada potensi yang terkandung di tiap jengkal ruang jika kita cermati secara seksama. Dengan mengaktualisasikan modal budaya yang kita punya, kita bisa melakukan perubahan.

Tak perlu muluk-muluk. Toh Idris, Jaya, Egi, dan Cahya awalnya hanya ingin mencari nafkah dan bersenang-senang membuat acara, sembari ikut membersihkan kawasan Kota Tua. Cara yang sederhana namun membangun keterikatan dan kepedulian kita pada ruang, pada kota yang kita diami.

Daftar Pustaka:

Ariyanti, Duwi Setya. 2012. Lorong Rupa, Lorong Petualang Seni. http://lifestyle.okezone.com/read/2012/07/11/408/661988/lorong-rupa-lorong-petualangan-seni

Hidayat, Dodi dkk. 2014. Impian Kota Tua Jakarta. TEMPO, 4 Mei 2014.

Teeuwen, Dirk. Taman Fatahillah: An Encounter and Lasting Colonial Memory. www.indonesia-dutchcolonialheritage.nl/jakhistoricalsites/Stadhuis%2520artikel.pdf

http://bisniswisata.co/view/kanal/?open=1&alias=berita&id=3889

http://www.jakarta-tourism.go.id/node/118

 

POTONGAN WAWANCARA: Lorong Rupa TuaRt, Komunitas Reggae Kota Tua, Komunitas Tattoo Kota Tua, Komunitas Manusia Batu Kota Tua

ARSIP VIDEO ruangrupa: Jakarta Habitus Publik “Kota Tua” (2001)